Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Contact me on Twitter , Instagram , and Facebook
For Fast Respond, send email to 11.6837@stis.ac.id
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kamis, 31 Maret 2011

Teori Lempeng Tektonik dan Persebaran Gunung Api serta Gempa Bumi

BAB I
PENDAHULUAN
  
1.1  Latar Belakang Masalah

Di muka bumi terdapat gejala-gejala alam yang mempengaruhi kehidupan manusia. Timbulnya gejala alam ini tidak dapat diminta dan tidak dapat ditolak oleh manusia. Gerak kehidupan manusia banyak dipengaruhi oleh gejala alam. Fenomena alam atau gejala alam ada yang mendukung dan ada juga yang membatasi aktivitas manusia. Pada batas-batas tertentu, manusia harus menyesuaikan diri dengan alam.

Beberapa gejala alam yang mempengaruhi kehidupan manusia, antara lain gerakan lempeng tekonik, aktivitas vulkanisme (gunung berapi) dan gempa bumi.


1.2  Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini kami merumuskan masalah-masalah yang akan dikaji sebagai berikut :
(1)   Apa yang dimaksud dengan lempeng tektonik?
(2)   Bagaimana teori lempeng tektonik?
            (3)   Bagaimana proses terjadinya gunung api di wilayah Indonesia?
(4)   Bagaimana persebaran gunung api di Indonesia?
(5)   Apa yang dimaksud dengan gempa bumi?
(6)   Apa yang menyebabkan terjadinya gempa bumi?
(7)   Ada berapa macam getaran pada proses perambatan gempa bumi?
(8)   Ada berapa macam gempa bumi?


1.3  Tujuan
                                                     
Dalam penyusunan makalah ini kami mempunyai tujuan sebagai berikut :
(1)   Untuk  mengetahui pengertian lempeng tektonik.
(2)   Untuk mengetahui teori lempeng tektonik.
(3)   Untuk mengetahui proses terjadinya gunung api di wilayah Indonesia.
(4)   Untuk mengetahui persebaran gunung api di Indonesia.
(5)   Untuk mengetahui pengertian gempa bumi.
(6)   Untuk mengetahui penyebab terjadinya gempa bumi.
(7)   Untuk mengetahui macam-macam getaran pada proses perambatan gempa
        bumi.
(8)   Untuk mengetahui macam-macam gempa bumi.


BAB II
PEMBAHASAN
  
2.1 Pengertian Lempeng Tektonik

Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang disokong oleh magma di bawahnya. Oleh karena itu lempeng tektonik ini bebas untuk menggesek satu sama lain. Litosfer terpecah-pecah menjadi menjadi 12 lempeng. Dinamakan lempeng, ka- rena bagian litosfer itu mempunyai ukuran yang besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan lebar), tetapi berukuran kecil pada arah vertikal. Lempeng-lempeng itu masing-masing bergerak mendatar.

Daratan dan juga dasar lautan akan secara perlahan-lahan dibawa ke arah kedudukan baru apabila lempeng beralih. Batas lempeng ditandai oleh lingkaran gempa bumi dan rangkaian gunung berapi.


2.2 Teori Lempeng Tektonik

Kerak bumi terbagi menjadi lempengan-lempengan. Ada lempengan yang besar dan ada yang kecil. Di antara lempengan-lempengan itu terdapat retakan-retakan besar di kerak bumi. Lempengan-lempengan itu bergerak perlahan-lahan dengan kecepatan 3-13 cm/tahun ke arah permukaan bumi. Di beberapa tempat, lempengan-lempengan tersebut bergerak saling menjauh, mendekat dan bertumbukan (bertabrakan).
                                                                               
Di daerah yang lempengannya saling menjauh, timbul bahan lelehan dari dalam bumi melalui retakan-retakan, kemudian menjadi dingin dan membentuk batuan basal. Ber-pisahnya lempengen-lempengan bumi ini terjadi jauh di bawah lautan di bumi. Basal yang timbul kemudian membentuk deretan pematang bawah samudra yang disebut pematang tengah samudera. Semakin banyak bahan lelehan dan membentuk basal, maka akan semakin jauh lempengan tersebut terpisah dan menyebabkan melebarnya dasar samudera.

Di antara Australia dan Antartika, terdapat pematang tengah samudera yang melebar sebesar 6-7,5 cm/tahun dan menyebabkan terdorongnya lempengan India-Australia ke arah utara sehingga bertabrakan dengan lempengan Eurasia yang dimulai sekitar 25 juta tahun yang lalu dan terus berlanjut hingga sekarang. Proses lempengan India-Australia yang sedang didorong ke bawah oleh lempengan Eurasia disebut penunja-man. Tabrakan kedua lempeng ini mengakibatkan Australia bagian utara terdorong ke bawah dan membentuk Teluk Carpentaria, Laut Timor dan Laut Arafuru.

Teori lempeng tektonik muncul setelah Alfred Wegener dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans (1915) mengemukakan bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak di atas massa yang relatif lembek (continental drift).
                                                   
Gravitasi dianggap sebagai penyebab utama dari semua pergerakan lempeng. Gaya gravitasi menarik lempeng yang tersubduksi karena bagian itu memang lebih tua dan lebih berat bobotnya. Kemudian karena tertarik, ada celah di tengah punggung samudera yang kemudian terisi material dari dalam mantel.


2.3 Proses Terjadinya Gunung Api di Wilayah Indonesia

Gunung berapi merupakan gejala alam yang berupa keluarnya lava panas ke permu-kaan bumi. Aktivitas gunung berapi tidak hanya menimbulkan kerugian bagi manusia yang tinggal di sekitarnya, tetapi juga menyebabkan lahan menjadi subur. Hal ini di-sebabkan bahan gunung api tersebut mengandung bahan-bahan yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan. Tingkat kesuburan lahan sangat menentukan kesanggupan masya-rakat untuk bertahan di suatu wilayah. Dengan memanfaatkan lahan yang subur, peta-ni akan menghasilkan hasil panen yang banyak.

Ketika pinggiran lempengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia, lempengan tersebut longsor jauh ke dalam bumi, di bawah Indonesia. Suhu yang sangat tinggi telah melelehkan pinggiran lempengan sehingga menghasilkan magma. Di banyak tempat, magma ini kemudian muncul melalui retakan di permukaan bumi dan membentuk gunung-gunung api. Tabrakan kedua lempengan tersebut, memben-tuk Pegunungan Himalaya, yakni busur gunung api di Indonesia, parit Jawa dan tanah tinggi Nugini.

Busur gunung-gunung api di Indonesia terbentuk dengan cara seperti ini. Gempa bu-mi umumnya terjadi di kawasan ini karena lempengan benua mengeluarkan tekanan pada saat lempengan itu menurun melalui parit samudera. Gunung-gunung api yang terbentuk dengan cara ini disebut gunung api andesit karena lava yang dikeluarkan-nya membentuk batuan  yang disebut andesit. Gunung-gunung api andesit sifatnya sangat mudah meletus dan tak terduga.


2.4 Persebaran Gunung Api di Indonesia

Di Indonesia terdapat 400 gunung berapi, tetapi yang masih aktif kira-kira 80 gunung saja. Gunung-gunung tersebut digolongkan atas tiga barisan, yaitu :
      (1)   Sumatera - Jawa - Nusa Tenggara - sekitar Laut Banda.
      (2)   Halmahera dan pulau-pulau di sebelah baratnya.
(3)   Sulawesi Utara - Pulau Sangihe - Pulau Mindanao.

Ada tiga sistem pokok persebaran pegunungan yang bertemu di Indonesia, yaitu sistem Sunda, sistem Busur Tepi Asia dan sistem Sirkum Australia.
2.4.1 Sistem Sunda

Sistem ini dimulai dari Arakan Yoma di Myanmar sampai ke Kepulauan Banda di Maluku dengan panjang kurang lebih 7.000 km yang terdiri dari lima busur pegu-nungan, yaitu :
(1)   Busur Arakan Yoma, terpusatdi Shan (Myanmar).
(2)   Busur Andaman Nicobar, terpusat di Mergui.
(3)   Busur Sumatera – Jawa, terpusat di Anambas.
(4)   Busur Kepulauan Nusa Tenggare, terpusat di Flores.
(5)   Busur Banda, terpusat Banda.

Secara umum, sistem Sunda terbagi atas dua busur, yakni busur dalam vulkanis dan busur luar tidak vulkanis yang terletak di bawah permukaan laut.


2.4.2 Sistem Busur Tepi Asia

Sistem ini dimulai dari Kamsyatku melalui Jepang, Filipina, Kalimantan dan Sulawe-si. Di Filipina, busur tepi Asia bercabang menjadi tiga, yaitu :
(1)   Cabang pertama dimulai dari Pulau Luzon melalui Pulau Samar ke Mindanao
        dan Kepulauan Sulu ke Kalimantan Utara.
(2)   Cabang kedua dimulai dari Pulau Samar ke Mindanao dan Sangihe ke Sula-
        wesi.
(3)   Cabang ketiga dimulai dari Pulau Luzon melalui Pulau Palawan ke Kaliman-
        tan Utara.


2.4.3 Sistem Sirkum Australia

Sistem ini berasal dari Selandia Baru melalui Kaledonia Baru ke Irian (Papua). Ba-gian utara sistem pegunungan ini bercabang dua sebagai berikut :
(1)      Dari Pulau Bismarck melalui pegunungan tepi utara Papua sampai ke kepala
        burung menuju Halmahera.
(2)   Dari ekor Pulau Irian (Papua) melaui bagian tengah sampai ke Pegunungan
        Charleslois di sebalah barat.

Ketiga pegunungan ini bertemu di sekitar Kepulauan Sulu dan Banggai. Indonesia a-dalah daerah pertemuan rangkaian Mediterania dan rangkaian Sirkum Pasifik dengan proses pembentukan pegunungan yang masih berlangsung. Oleh sebab itu, Indonesia banyak terjadi gempa bumi.


2.5 Pengertian Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran alam yang bersumber dari dalam bumi dan merambat ke permukaan. Gempa bumi biasanya disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.
Gejala alam ini banyak menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Kerusakan akibat gempa bumi biasanya diikuti dengan bencanan sekunder, seperti kebakaran, terputusnya arus listrik dan gelombang laut yang sangat dahsyat (tsunami). Mengingat gempa bumi menimbulkan kerugian dan kerusakan bagi makhluk hidup, maka manusia mencoba untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa bumi. Hal ini sangat berkaitan dengan pergerakan lempeng. Usaha itu dilakukan untuk menyela-matkan diri dari bencana. Namun, saat ini ilmu pengetahuan belum mampu menjawab tantangan tersebut.
Gempa bumi terjadi setiap hari di bumi, namun kebanyakan kecil dan tidak menye-babkan kerusakan apa-apa. Gempa bumi kecil juga dapat mengiringi gempa bumi be-sar, dan dapat terjadi sesudah, sebelum, atau selepas gempa bumi besar tersebut terja-di. Kebanyakan gempa bumi terjadi di sepanjang perbatasan antara dua lempeng.
Pada saat gempa bumi terjadi, kita dapat merasakan merasakan adaya getaran bumi di tempat kita berpijak. Jika semua getaran bumi dari yang lemah sampai dengan yang keras dihitung, maka dalam setahun kira-kira terjadi 1.000 kali gempa. Ilmu yang mempelajari tentang gempa disebut seismologi.

Pusat gempa di dalam bumi (di bawah permukaan tanah) disebut hiposentrum. Mulai dari hiposentrum ini getaran diteruskan ke segala arah. Ada dua bentuk hiposentrum, yaitu garis dan titik. Hiposentrum berbentuk garis disebabkan oleh patahan kerak bumi, sedangkan hiposentrum berbentuk titik penyebabnya adalah gunung api atau tanah longsor. Tempat hiposentrum ini ada yang sangat dalam dan ada yang dangkal. Di Indonesia terdapat hiposentrum yang dalamnya lebih dari 500 km, contohnya di bawah Laut Flores yang dalamnya kurang lebih 720 km.

Pusat gempa pada permukaan bumi di atas hiposentrum disebut episentrum. Kerusa-kan terbesar yang diakibatkan oleh gempa terdapat di sekitar daerah episentrum. Dari episentrum, getaran permukaan menjalar horizontal ke segala arah. Di Indonesia, episentrum kebanyakan terdapat di bawah permukaan laut, sehingga kerusakan yang terjadi di daratan tidak terlalu besar.

Untuk keperluan pemetaan, maka pemetaan dapat dilakukan setelah terjadinya gem-pa. Pada peta gempa, ada beberapa macam garis yang dikenal, yakni sebagai berikut :
      (1) Homoseista ialah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui gem-
            pa pada waktu yang sama.
(2) Isoseista ialah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui oleh
      gempa yang berintesitas sama. Ada isoseista yang kesatu, kedua, keiga, dan
            seterusnya.
      (3) Pleistoseista ialah garis yang mengelilingi daerah yang mendapat kerusakan
      terhebat dari gempa bumi. Pleistoseista ini mengelilingi episentrum, sebab
      daerah di sekitar episentrum mengalami kerusakan yang terhebat. Isoseista
      yang pertama juga merupakan  pleistoseista.


2.6 Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh teka-nan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi.
Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tersebut. Gempa bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa bumi kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami fase transisi pada kedalaman lebih dari 600 km.
Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gu-nung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gu-nung berapi.
Beberapa gempa bumi juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika.
Sebagian lagi, gempa bumi juga dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari atau ke dalam bumi contohnya pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal.
Terakhir, gempa juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat mem-buat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi.

2.7 Macam-Macam Getaran pada Proses Perambatan Gempa Bumi

Proses perambatan gempa bumi melalui tiga macam getaran, yaitu :
      (1)   Getaran longitudinal (merapat-merenggang)
              Getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui bagian dalam bu-
              mi ke segala arah dengan kecepatan 7-14 km/jam. Getaran ini merupakan ge-
        taran pendahuluan pertama sehingga disebut getaran primer (P) karena da-
  tangnya paling awal. Getaran ini belum menimbulkan kerusakan.
      (2)   Getaran transversal (naik-turun)
              Getaran yang berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui bagian dalam
              bumi dengan kecepatan 4-7 km/jam. Getaran ini adalah getaran pendahuluan
              kedua dan disebut getaran sekunder (S), karena datangnya setelah getaran
              longitudinal. Getaran ini belum menimbulkan kerusakan.
      (3)   Getaran gelombang panjang
              Getaran ini berasal dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi
              dengan kecepatan 3,8-3,9 km/jam. Getaran ini datangnya paling akhir dan
              merupakan getaran pokok yang menimbulkan kerusakan.

     
2.8 Macam-Macam Gempa Bumi

Pada dasarnya, gempa bumi dapat diklasifikasikan berdasarkan intesitasnya (kekuat-annya), penyebabnya, bentuk episentrumnya, kedalaman hiposentrumnya dan jarak dari episentrumnya.

2.8.1 Gempa Bumi Berdasarkan Intesitasnya
     
a)      Makroseisme, yaitu gempa yang intesitasnya besar dan dapat diketahui tanpa alat.
b)      Mikroseisme, yaitu gempa yang intesitasnya kecil sekali dan hanya dapat di-ketahui dengan menggunakan alat saja.


2.8.2 Gempa Bumi Berdasarkan Penyebabnya

a)      Gempa runtuhan (robohan)
Gempa runtuhan terjadi karena runtuhnya tanah atau retaknya lapisan batuan yang biasanya terjadi di daerah pertambangan yang berbentuk terowongan, pegunungan kapur, lereng tebing yang curam, atau lubang. Di dalam pegu-nungan kapur kadang-kadang terdapat gua yang terjadi karena pelarutan jika atap gua tersebut runtuh, maka timbullah gempa bumi. Kejadian gempa sema-cam ini sering terjadi di lokasi pertambangan bawah tanah karena batuan-batuan di dalamnya dieksploitasi sehingga mengakibatkan munculnya rongga bawah tanah. Umumnya, gempa runtuhan sangat jarang terjadi, kalau pun ter-jadi, hanya dalam skala kecil, bahaya yang ditimbulkan kecil dan terjadi di daerah lokal. Gempa ini terjadi sekitar 3% tiap tahunnya.
b)      Gempa vulkanis
Gempa vulkanis disebabkan oleh letusan gunung api, bersifat lemah, mem-punyai bentuk keretakan memanjang yang sama dengan gempa bumi tektonik, hanya terdapat di sekitar gunung api yang meletus dan hanya akan terasa di sekitar tubuh gunung api itu saja. Gempa bumi  jenis ini dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah letusan gunung api. Adanya getaran di dalam bumi dika-renakan gesekan magma dengan dinding batuan yang diterobosnya pada saat magma di dalam gunung api naik ke permukaan dan adanya tekanan gas pada saat terjadi ledakan sangat besar dari dalam sumbat kawah yang akhirnya me-nimbulkan gempa bumi. Perpindahan mendadak dari magma pada tubuh da-pur magma pun dapat menyebabkan terjadinya gempa bumi vulkanis. Sekitar  75% gempa yang pernah mengguncang bumi adalah jenis gempa vulkanis. Bahaya gempa vulkanis lebih besar dari gempa runtuhan, namun lebih kecil dari pada gempa tektonik.
c)      Gempa tektonik
Gempa ini disebabkan oleh adanaya pelepasan tenaga yang terjadi karena per-geseran-pergeseran lempeng tektonik di dalam bumi secara tiba-tiba dan me-rupakan akibat dari gerak orogenetik. Gejala ini sangat erat hubungannya dengan pembentukan pegunungan yang biasanya diikuti pembentukan sesar-sesar baru. Ketegangan-ketegangan yang terjadi di dalam bumi akan mengak-tifkan kembali sesar-sesar lama yang sudah tidak aktif.  Jika pergerakan terse-but cukup besar dan terekam oleh seismograf (alat pencatat gempa), maka a-kan menyebabkan terjadinya gempa bumi tektonik. Daerah yang sering kali mengalami gempa ini adalah daerah pegunungan lipatan muda, yaitu daerah rangkaian Mediterania dan rangkaian Sirkum Pasifik. Bahaya yang ditimbul-kannya besar sekali sebab lapisan bumi dapat mengalami lipatan, retakan, pa-tahan, atau bergeser. Karena gempa ini mengakibatkan pergeseran muka bu-mi, maka gempa ini disebut juga gempa dislokasi.Gempa bumi tektonik banyak terjadi di daerah yang masih labil. Misalnya daerah  :
1.      Rangkaian Mediterania, seperti Balkan, Iran, India  dan Indonesia.
2.      Rngakaian Sirkum Pasifik, seperti Jepang, Filipina, Cile dan Amerika Tengah.
d)   Gempa tumbukan                                
      Gempa tumbukan terutama disebabkan oleh meteor besar yang jatuh ke bumi.
      Tetapi gempa seperti ini jarang terjadi.


2.8.3 Gempa Bumi Berdasarkan Bentuk Episentrumnya

a)      Gempa sentral
Bentuk episentrum gempa ini adalah titik.
b)      Gempa linear
Gempa ini memiliki bentuk episentrum garis.

2.8.4 Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Hiposentrumnya

a)      Gempa bumi dalam
Kedalaman hiposentrum gempa ini lebih dari 300 km. karena letak hiposen-trumnya yang dalam, gempa ini tidak begitu mengguncang permukaan bumi. Contohnya, gempa ini pernah terjadi di bawah Laut Jawa, Laut Flores dan Laut Sulawesi.
b)      Gempa bumi menengah
Kedalaman hiposentrumnya antara 100-300 km. Gempa ini menimbulkan ke-rusakan ringan. Contohnya, gempa yang pernah terjadi di  sebelah selatan Ja-wa, Nusa Tenggara, Maluku dan Teluk Tomini.
c)      Gempa bumi dangkal
Kedalaman hiposentrumnya kurang dari 100 km. Gempa ini berbahaya karena dapat menimbulkan kerusakan besar.


2.8.5 Gempa Bumi Berdasarkan Jarak dari Episentrum

a)      Gempa lokal terjadi jika jarak episentrum kurang dari 10.000 km.
b)      Gempa jauh terjadi jika jarak episentrum sekitar 10.000 km.
c)      Gempa sangat jauh terjadi jika jarak episentrum lebih dari 10.000 km.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari teori yang telah kami sajikan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)      Lempeng tektonik ialah segmen keras kerak bumi yang disokong oleh magma di bawahnya dan bebas bergerak untuk menggesek satu sama lain.
2)      Lempengan-lempengan tersebut saling menjauh, mendekat dan bertabrakan sehingga membentuk relief-relief di kerak bumi serta dapat menimbulkan ada-nya gempa bumi.
3)      Terjadinya gunung api di wilayah Indonesia disebabkan oleh pinggiran lem-pengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia sehingga lem-pengan tersebut longsor jauh ke dalam bumi di bawah Indonesia. Lalu suhu yang tinggi melelehkan pinggiran lempengan tersebut dan menghasilkan mag-ma yang muncul melalui retakan di permukaan bumi dan akhirnya memben-tuk gunung-gunung api.
4)      Persebaran gunung-gunung api di Indonesia dibagi menjadi tiga barisan. Ada tiga pokok persebaran pegunungan yang bertemu di Indonesia, yaitu sistem Sunda, sistem busur tepi Asia dan sistem Sirkum Australia.
5)      Gempa bumi ialah getaran alam yang bersumber dari dalam bumi dan meram-bat ke permukaan.
6)      Gempa bumi terjadi disebabkan oleh pergerakan lempengan-lempengan, per-gerakan magma di dalam gunung api, menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, injeksi atau akstraksi cairan dari atau ke dalam bumi dan peledakan bahan peledak.
7)      Proses perambatan gempa bumi melalui tiga macam, yaitu longitudinal (mera-pat-merenggang), transversal (naik-turun) dan gelombang panjang.
8)      Macam-macam gempa bumi dibedakan berdasarkan atas penyebabnya, intesi-tasnya (kekuatannya), bentuk episentrumnya, kedalaman hiposentrumnya dan jarak dari episentrum.


3.2 Saran

1)      Perlu dikaji lebih dalam lagi tentang teori lempeng tektonik, persebaran gu-
nung api dan gempa bumi agar mendapat informasi yang lebih akurat.
2)      Diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplika-
sikannya di dalam kehidupan sehari-hari.
  

DAFTAR PUSTAKA


Sugiyanto dan Endarto, Danang. 2008. Mengkaji Ilmu Geografi 1. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Wardiyatmoko, K. 2006. Geografi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
www.wikipedia.org.

1 komentar: