Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Contact me on Twitter , Instagram , and Facebook
For Fast Respond, send email to 11.6837@stis.ac.id
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 30 Maret 2011

Karya Tulis

PENGGUNAAN BAHASA DAERAH KAILI
DI KALANGAN SISWA-SISWI
SMA NEGERI MODEL TERPADU MADANI PALU TAHUN 2010



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Teknologi komunikasi yang berkembang dewasa ini telah mengalami perkembangan pesat. Ada bermacam-macam teknologi komunikasi yang ada. Dengan adanya teknologi komunikasi yang didasari dengan semakin mudahnya arus komunikasi yang dapat diterima khalayak luas menunjukan bahwa peranan yang dibawa begitu penting.
Kemudahan akses informasi memberikan pengaruh luar biasa dalam dinamisasi peradaban manusia. Dengan adanya kemudahan akses informasi, maka pertukaran ide, konsep serta temuan-temuan peradaban dan budaya dapat dipertukarkan dengan lebih mudah untuk menuju ke arah perkembangan selanjutnya.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, peradaban manusia tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi komunikasi. Kita mengenal beberapa alat komunikasi modern, di antaranya adalah surat kabar, radio, televisi, internet, handphone dan sebagainya. Semua itu merupakan hasil dari evolusi-evolusi teknologi sebelumnya. Teknologi komunikasi yang melandasi ke semua teknologi komunikasi yang ada adalah bahasa. Bahasa memang teknologi komunikasi yang tergolong purba. Namun, dengan adanya bahasa teknologi komunikasi modern dapat berkembang pesat. Segala macam teknologi komunikasi yang ada dewasa ini, baik personal, kelompok maupun komunikasi secara massa tidak bisa meninggalkan apa yang kita kenal dengan bahasa.
Teknologi temuan manusia satu ini, yakni bahasa yang tidak lekang dimakan zaman yang sebenarnya juga mengalami banyak evolusi-evolusi di dalamnya. Bahasa mengalami banyak perubahan-perubahan baik dari sistem kebahasaannya maupun mengalami perpecahan yang kemudian terbagi dalam berbagai bahasa.
Bahasa merupakan salah satu asset kebudayaan yang perlu dijaga eksistensinya. Hal ini dikarenakan bahasa adalah alat pemersatu bangsa yang akan selalu digunakan sehari-hari oleh masyarakat luas dalam berkomunikasi antarsesama.

1.2  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui penggunaan bahasa daerah Kaili di kalangan siswa-siswi SMAN Model Terpadu Madani.
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya penggunaan bahasa daerah Kaili.
3.      Untuk mengetahui dampak berkurangnya penggunaan bahasa daerah Kaili.

1.3  Perumusan Masalah
Dalam penyusunan karya tulis yang berjudul “Penggunaan Bahasa Daerah Kaili di Kalangan Siswa-Siswi SMAN Model Terpadu Madani“, penulis dapat merumuskan masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana penggunaan bahasa daerah Kaili di kalangan siswa-siswi SMAN Model Terpadu Madani?
2.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya penggunaan bahasa daerah Kaili?
3.      Apa saja dampak berkurangnya penggunaan bahasa daerah Kaili?

1.4  Landasan Teori
            1.4.1        Bahasa Sebagai Alat Komunikasi
Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat vital bagi manusia. Sebagai alat komunikasi, bahasa dipakai untuk menghubungkan perbedaan, persamaan serta berbagai dialektika perabadan dari zaman kuno hingga sekarang. Tanpa bahasa seolah-olah dunia ini terasa gelap gulita.
Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut:
1.    Suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
2.    Suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain.
3.    Suatu kesatuan sistem makna.
4.    Suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
5.    Suatu ucapan yang menempati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: perkataan, kalimat, dan lain-lain).
6.    Suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik.

Bahasa erat kaitannya dengan kognisi pada manusia, dinyatakan bahwa bahasa adalah fungsi kognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan. Ilmu yang mengkaji bahasa ini disebut sebagai linguistik.
Seperti yang diungkapkan oleh Poepoprojo (1987: 110), bahwa hakekat bahasa adalah bahasa tutur. Bahasa membahasa dalam bahasa tutur tidak dalam bahasa tulis, didengar namun tidak dilihat. Bahasa terlepas dari proses pelaksanaanya begitu dibahasa tuliskan. Bahasa tulis kehilangan daya ekspresif ketimbang bahasa yang diucapkan. Dengan bahasa tulis, bahasa memang dilestarikan, tetapi bahasa pun menjadi lemah karena tidak diaplikasikan dalam kehiduppan sehari-hari.

            1.4.2        Bahasa Daerah di Sulawesi Tengah
Bahasa daerah adalah suatu bahasa yang dituturkan di suatu wilayah dalam sebuah negara kebangsaan, negara bagian federal atau provinsi, atau daerah yang lebih luas. Dalam rumusan Piagam Eropa untuk Bahasa-Bahasa Regional atau Minoritas, definisi bahasa daerah dalam hukum internasional adalah sebagai berikut:
1.    Secara tradisional digunakan dalam wilayah suatu negara, oleh warga negara dari negara tersebut, yang secara numerik membentuk kelompok yang lebih kecil dari populasi lainnya di negara tersebut.
2.    Berbeda dari bahasa resmi dari negara tersebut.

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, salah satunya yang terkenal adalah suku Kaili. Suku ini memiliki bahasa daerah yang juga dinamakan bahasa Kaili. Bahasa Kaili adalah bahasa yang digunakan oleh etnik Kaili di Sulawesi Tengah, yang tersebar di kabupaten sebagian Kabupaten Banggai, sebagian Kabupaten Banggai Kepulauan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Toli Toli, Kabupaten Poso, Kabupaten Morowali, dan sebagian Kabupaten Tojo Una Una.
Suku Kaili mengenal lebih dari dua puluh bahasa yang masih hidup dan dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Uniknya, di antara kampung yang hanya berjarak 2 km kita bisa menemukan bahasa yang berbeda satu dengan lainnya. Namun demikian, suku Kaili memiliki lingua franca, yang dikenal sebagai bahasa Ledo. Kata "Ledo" ini berarti "tidak". Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaili lainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang) masih ditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara bahasa Ledo yang dipakai di daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasi dengan beberapa bahasa para pendatang terutama bahasa Bugis dan bahasa Melayu. Bahasa-bahasa yang masih dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu bahasa Tara (Talise, Lasoani, Kavatuna dan Parigi), bahasa Rai (Tavaili sampai ke Tompe), bahasa Doi (Pantoloan dan Kayumalue), bahasa Unde (Ganti, Banawa, Limboro, Tovale dan Kabonga), bahasa Ado (Sibalaya, Sibovi dan Pandere), bahasa Edo (Pakuli dan Tuva), bahasa Ija (Bora dan Vatunonju), bahsa Da'a (Jono'oge), bahasa Moma (Kulawi) dan bahasa Bare'e (Tojo, Unauna dan Poso).


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penggunaan Bahasa Daerah Kaili di Kalangan Siswa-Siswi SMAN Model Terpadu Madani
Di zaman yang modern seperti saat ini, jarang sekali kita jumpai orang-orang yang menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Orang-orang lebih sering menggunakan bahasa resmi yang ada di negaranya dalam bercakap-cakap antarsesama. Sama halnya dengan keadaan di SMAN Model Terpadu Madani, para siswa-siswinya pun jarang menggunakan bahasa daerah Kaili, baik berbicara dengan guru, maupun berbicara dengan teman. Mereka lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara kita dalam percakapan sehari-hari di sekolah.
Hal ini mereka lakukan karena lingkungan mereka juga tidak menggunakan bahasa daerah Kaili. Pelajaran bahasa Kaili pun sudah tidak diajarkan lagi di bangku SMA. Padahal di Pulau Jawa, siswa-siswinya masih diajarkan pelajaran bahasa daerah Jawa dari jenjang pendidikan SD hingga SMA. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bahasa daerah Kaili sudah tidak dapat didengar lagi di lingkungan SMAN Model Terpadu Madani.

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berkurangnya Penggunaan Bahasa Daerah Kaili
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya penggunaan bahasa daerah kaili adalah sebagai berikut:
  1. Belum adanya kurikulum yang dijadikan sebagai acuan guru untuk mengajarkan pelajaran bahasa daerah Kaili di bangku SMA hingga sekarang.
  2. Adanya keanekaragaman suku di lingkungan SMAN Model Terpadu Madani yang mengakibatkan perbedaan bahasa daerah yang digunakan setiap orang.
  3. Kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak di rumah dengan menggunakan bahasa daerah Kaili.
  4. Bahasa daerah dianggap sebagai bahasa kuno, sehingga remaja zaman sekarang lebih senang menggunakan bahasa gaul dalam pecakapan sehari-hari.
  5. Masuknya bahasa asing sehingga bahasa daerah dilupakan oleh masyarakat.
2.3 Dampak Berkurangnya Penggunaan Bahasa Daerah Kaili
Berkurangnya penggunaan bahasa daerah Kaili di kalangan masyarakat ternyata membawa dampak buruk bagi kebudayaan tanah Kaili. Jika bahasa daerah Kaili ini tidak dilestarikan, maka lama kelamaan bahasa ini pun akan lenyap dimakan oleh zaman. Kita sebagai penduduk aslinya sudah tidak dapat mendengar lagi bahasa daerah Kaili dalam percakapan sehari-hari. Bahkan anak cucu kita nanti sudah tidak mengetahui adanya bahasa daerah Kaili yang sebenarnya diwariskan oleh nenek moyang kita sejak zaman dahulu kala.
Sebagai warga negara Indonesia pun kita akan malu dengan bangsa lain karena tidak dapat menjaga salah satu asset kebudayaan yang sangat penting. Walaupun bahasa resmi negara kita adalah bahasa Indonesia, sebaiknya kita juga haru melestarikan penggunaan bahasa daerah di kehidupan sehari-hari.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa daerah Kaili sangat jarang digunakan dalam percakapan di kalangan siswa-siswi SMAN Model Terpadu Madani. Hal ini dikarenakan bahasa daerah Kaili tidak diajarkan di bangku SMA, adanya keanekaragaman suku di lingkungan sekolah yang mengakibatkan perbedaan bahasa daerah, kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak di rumah dengan menggunakan bahasa daerah Kaili, bahasa daerah dianggap sebagai bahasa kuno dan masuknya bahasa asing sehingga bahasa daerah dilupakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, hal ini membawa dampak buruk bagi eksistensi bahasa daerah Kaili yang mengakibatkan bahasa ini lama kelamaan akan lenyapdimakan oleh zaman.

3.2    Saran
Adapun saran-saran yang diajukan oleh penulis dalam penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai warga negara yang baik, kita berkewajiban untuk menjaga eksistensi bahasa daerah dengan tetap menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari.
2.      Orang tua hendaknya memberikan pengajaran tentang bahasa daerah kepada anaknya di rumah dengan dimulai dari percakapan harian.
3.      Sebaiknya pemerintah terkait setempat mencanangkan program pembelajaran bahasa daerah mulai dari jenjang pendidikan TK hingga SMA.
4.      Seharusnya para remaja tidak malu untuk menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari untuk melestarikan bahasa itu sendiri.



DAFTAR  PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar