Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Contact me on Twitter , Instagram , and Facebook
For Fast Respond, send email to 11.6837@stis.ac.id
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kamis, 31 Maret 2011

Kehidupan Pemulung Botol di Kota Palu

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Di zaman yang modern seperti sekarang ini, kita sebagai manusia pasti membu-tuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kenyataannya, uang telah menjadi salah satu kebutuhan primer yang harus kita penuhi. Karena tanpa uang, tentunya kita akan sulit berkembang, beraktifitas dan bertahan hidup. Oleh karena itu, kita diwajib-kan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, sebagian dari kita menganggap uang adalah segalanya. Namun, ada pula yang tidak mempunyai uang yang cukup dapat mempertahankan hidupnya di tengah za-man yang penuh persaingan seperti saat ini. Dan tentunya, mereka harus bekerja lebih keras untuk mendapat sesuap nasi.

Banyak dari mereka yang masih di bawah umur sudah bekerja membanting tulang demi kesejahteraan keluarganya. Ada yang menjadi pengemis, pemulung dan peng-amen di jalanan. Padahal, semestinya mereka harus menuntut ilmu di bangku sekolah. Selain anak-anak, profesi tersebut juga banyak dilakoni oleh orang dewasa. Mayoritas dari mereka yang melakoninya adalah para pengangguran. Oleh karena itu, kami meng-angkat judul “Kehidupan Pemulung Botol Di Kota Palu” untuk mengetahui kehidupan para pemulung botol khususnya di Kota Palu yang merupakan salah satu propinsi yang terbelakang di Indonesia.

B.     Pertanyaan Penelitian
Dalam penyusunan Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang berjudul “Kehidupan Pemu-lung Botol Di Kota Palu” ini, penulis merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang berkait-an dengan penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana kehidupan sehari-hari para pemulung botol di Kota Palu?
2)      Berapa pendapatan dari hasil kerja yang mereka lakukan per hari?
3)      Apa suka dan duka yang mereka rasakan dalam melakoni profesi tersebut?
4)      Apa sisi positif dan negatif bagi masyarakat dengan adanya pemulung botol?
5)      Apa usaha pemerintah setempat dalam menangani permasalahan tersebut?
C.     Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang penulis lakukan terhadap para pemulung botol khu-susnya yang ada di Kota Palu adalah sebagai berikut:
1)      Mengetahui kehidupan sehari-hari para pemulung botol di Kota Palu.
2)      Mengetahui pendapatan dari hasil kerja yang mereka lakukan per hari.
3)      Mengetahui suka dan duka yang mereka rasakan dalam melakoni profesi ter-sebut.
4)      Mengetahui sisi positif dan negatif bagi masyarakat dengan adanya pemulung botol.
5)      Mengetahui usaha pemerintah setempat dalam menangani permasalahan terse-but.

D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat kita aplikasikan di kehidupan kita sehari-hari adalah sebagai berikut:
1)      Terciptanya masyarakat yang peduli akan lingkungan sekitarnya.
2)      Terwujudnya lingkungan Kota Palu yang bersih dan indah.
3)      Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Kota Palu yang merata, mulai dari la-pisan masyarakat yang tingklat perekonomiannya rendah hingga tinggi.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
                                                                                        
A.  Pemulung Botol
Pemulung adalah orang yang memungut barang-barang bekas atau sampah terten-tu untuk proses daur ulang. Pekerjaan pemulung dianggap memiliki konotasi negatif. Pemulung botol adalah orang yang memungut botol bekas yang sudah tidak diperguna-kan lagi namun masih dapat didaur ulang.
Para pemulung biasanya memungut sampah yang berserakan di jalan ataupun di tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai e-konomis.
Sampah-sampah tersebut bersumber dari rumah tangga, pertanian, perkantoran, perusahaan, rumah sakit, pasar dan lain-lain. Secara garis besar sampah dibedakan men-jadi 3 jenis, yaitu:
1) Sampah anorganik/kering
Contoh: logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol dan lain-lain yang tidak dapat mengalami pembusukan secara alami.
2)Sampah oganik/basah                             
   Contoh: sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rempah-rempah, sisa bu-ah dan lain-lain yang dapat mengalami pembusukan secara alami.
3) Sampah berbahaya
   Contoh : baterai, botol racun nyamuk, jarum suntik bekas, dan lain-lain.
Sampah-sampah yang mereka pungut adalah jenis sampah yang dapat didaur u-lang. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat, yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan dan pendistribusian produk atau material bekas pakai.
Material yang dapat didaur ulang adalah sebagai berikut :
1) Botol bekas, wadah kecap, saus, sirup dan lain-lain, baik yang putih bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
2) Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah dan kardus, kecuali kertas yang berlapis minyak.
3) Alumunium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dan lain-lain
4) Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dan lain-lain.
5) Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dan lain-lain.
Manfaat pengelolaan sampah adalah:
1)      Menghemat sumber daya alam.
2)      Menghemat energi.
3)      Mengurangi uang belanja.
4)      Menghemat lahan TPA.
5)      Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman).
           
BAB III
METODE PENELITIAN

A.     Populasi dan Sampel
Demi terselesaikannya penyusunan Karya Ilmiah Remaja (KIR) ini, penulis men-gadakan penelitian dengan menggunakan:
Populasi        : Pemulung botol di Kota Palu.
Sampel          : Pemulung botol di Pasar Inpres.

B.     Teknik Pengumpulan Data
Untuk menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah Remaja (KIR) ini, penulis meng-gunakan beberapa metode yang dianggap sesuai sebagai acuan untuk memperoleh data. Adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut:
1)      Metode observasi
Pada kesempaatn ini, penulis mengadakan pengamatan secara langsung ke lo-kasi di mana para pemulung melakukan aktifitasnya untuk memperoleh gam-baran yang jelas dan nyata tentang kehidupan pemulung botol di Kota Palu.
2)      Metode wawancara
Untuk memperoleh data yang akurat langsung dari sumber utamanya, penulis mengadakan tanya jawab secara lansung ke beberapa pemulung botol dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut aktifitas kesehariannya.

C.     Teknik Analisis Data
Dalam penyusunan Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang berjudul “Kehidupan Pemu-lung Botol Di Kota Palu” ini, penulis menggunakan teknik analisis data dengan metode kualitatif. Metode ini mengutamakan cara kerjanya dengan mendiskripsikan hasil pene-litian berdasarkan penilaian-penilaian terhadap data yang diperoleh. Metode ini sangat diperlukan dalam proses penyusunan Karya Ilmiah Remaja (KIR) ini, karena data yang diperoleh penulis dari hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka.





BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.     Kehidupan Sehari-hari Pemulung Botol
Di tengah terlelapnya orang-orang yang masih tidur saat fajar menyongsong, para pemulung botol mulai melakukan aktifitas kesehariannya, tidak lain yaitu memulung botol. Mayoritas pemulung botol di Kota Palu adalah orang dewasa yang berusia 40 ta-hun ke atas. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian kecil dari para pemulung botol  yang ada di Kota Palu berusia antara 10-40 tahun. Selain pada pagi hari, mereka juga memulung botol pada siang hari hingga sore hari menjelang petang. Namun, ada juga para pemulung yang masih bekerja hingga pukul 22.00 bahkan sampai larut ma-lam. Hal ini dikarenakan mereka harus mencari botol-botol untuk ditukarkan ke para pengumpul dengan uang yang sangat mereka butuhkan untuk menyambung hidup di tengah zaman yang penuh dengan persaingan ini.
Pada pagi hari, para pemulung botol melakukan tugasnya dengan berjalan kaki dari tempat tinggal mereka yang terbuat dari papan ke rumah-rumah makan atau super market yang ada di Kota Palu. Aktifitas tersebut mereka lakukan mulai sekitar pukul 05.00-12.00. Hal ini dikarenakan sebagian besar super market dan rumah makan yang ada di Kota Palu mengakhiri segala aktifitasnya hingga larut malam, sehingga para pe-mulung botol tentu akan memungut botol-botol yang sudah dibuang (tidak diperguna-kan lagi). Bahkan, tidak jarang mereka harus mengorek tempat sampah yang baunya sangat menyengat demi mendapatkan sebuah botol.
Selain mengumpulkan botol-botol di rumah-rumah makan, mereka juga melaku-kan kebiasaannya itu di sepanjang jalan Kota Palu yang mereka lewati. Di mana mere-ka berjalan dan menemukan tempat sampah, mereka pasti akan mengoreknya dan men-cari barang yang masih bisa dijual ke para pengumpul.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 12.00, biasanya mereka akan beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Ada yang pulang ke rumah dan ada juga juga yang beristi-rahat di tepi jalan. Jika pemulung botol pulang ke rumah pada siang hari, biasanya me-reka tidak akan melanjutkan lagi kegiatan memulung botol, melainkan mereka akan melepas lelah mereka seharian di tempat tinggal mereka. Jika pemulung tersebut hanya beristirahat di tepi jalan, biasanya mereka akan melanjutkan lagi memungut botol di se-panjang jalan yang mereka lewati hingga sore hari atau bahkan malam hari.
Ada pemulung botol yang beraktifitas hingga pukul 16.00, 22.00, atau bahkan hingga pukul 01.00 dini hari. Namun, mayoritas pemulung botol tersebut beraktifitas hingga pukul 16.00. Biasanya para pemulung tersebut akan menyimpan botol-botol be-kas yang mereka dapatkan di rumah mereka selama satu bulan. Jika sudah saatnya, me-reka akan menjualnya ke para pengumpul dan akan diangkut dengan kapal laut ke Kota Surabaya untuk diolah kembali (didaur ulang). Akan tetapi, ada juga pemulung yang langsung menjual botol yang didapatkannya dalam satu hari ke para pengumpul. Na-mun, pemulung botol yang semacam ini hanya sedikit.
Mayoritas para pemulung botol yang ada di Kota Palu ini tidak hanya memungut botol saja, tetapi mereka juga merangkap menjadi pemulung sampah plastik, besi be-kas, kardus dan aluminium.

B.     Pendapatan Pemulung Botol Per Hari
Pendapatan yang diperoleh dari hasil kerja pemulung botol dalam sehari biasanya hanya akan cukup untuk makan pada hari itu saja. Untuk makan keesokan harinya, me-reka harus bekerja lagi mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak dipergunakan lagi seharian penuh. Hal ini dikarenakan harga penjualan botol-botol yang mereka pungut semakin lama semakin menurun. Turunnya harga botol bekas ini dimulai dari perteng-ahan tahun 2008 hingga sampai saat ini.
Pada waktu sebelum terjadinya penurunan harga botol bekas, biasanya pendapat-an mereka berkisar antara Rp. 700.000,00-Rp.1.000.000,00 dalam satu bulan. Namun, setelah terjadi penurunan harga botol bekas yang amat drastis seperti saat ini, biasanya mereka hanya mendapat pemasukan uang yang hanya cukup untuk makan dalam sehari saja. Dan pendapatan mereka itu hanya berkisar antara Rp. 3.000,00 hingga Rp. 5.000,00 per hari. Berarti, jika mereka menjualnya hanya sekali dalam sebulan, mereka akan mendapat pemasukan uang yang berkisar antara Rp. 90.000,00-Rp.150.000,00 da-lam satu bulan. Pendapatan mereka itu pun bukan hanya dari hasil memulung botol, te-tapi juga didapat dari hasil memulung barang-barang lain yang sudah tidak dapat diper-gunakan lagi namun dapat bernilai uang jika dijual ke para pengumpul. Contohnya kar-dus-kardus bekas, besi bekas, aluminium dan sampah plastik.
Harga yang dipatok oleh para pengumpul dari hasil kerja para pemulung dalam memulung botol tidak sebanding dengan rasa lelah yang harus mereka tanggung dari kerja keras mereka dalam satu hari. Adapun daftar harga yang dipatok para pengumpul botol saat ini adalah sebagai berikut:
1.      Gelas plastik air mineral 250 ml                                                  : Rp. 2.000,00/kg
2.      Botol plastik air mineral 600 ml                                                  : Rp. 500,00/kg
3.      Botol plastik air mineral 1500 ml                                                : Rp. 500,00/kg
4.      Botol kaca minuman “bir bintang” berlabel 1000 ml        : Rp. 500,00/buah
5.      Botol kaca minuman “bir bintang” tidak berlabel 1000 ml    : Rp. 400,00/buah
6.      Botol kaca minuman “topi miring” 1000 ml                     : Rp. 100,00/buah
7.      Botol kaca minuman “asoka”                                                     : Rp. 50,00/buah
8.      Botol kaca campuran selain di atas                                 : Rp. 50,00/buah
Jika dibandingkan dengan uang jajan anak pelajar SMA sekarang, tentu saja peng-hasilan para pemulung botol tersebut sama dengan uang jajan anak SMA dalam sehari. Padahal, uang hasil kerja mereka dalam satu hari harus cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dirinya dan keluarganya dalam satu hari.
 
C.     Suka Duka Menjadi Pemulung Botol
Dalam setiap pekerjaan, tentu saja ada suka dan duka dari apa yang kita lakukan. Begitu juga dalam melakoni profesi sebagai pemulung. Para pemulung botol juga mem-punyai suka dan duka dari apa yang telah mereka kerjakan.
Dalam memulung botol, rasa suka yang didapatkan oleh para pemulung botol ada-lah dapat mengisi waktu luang di usia tua karena dengan itu, mereka tidak akan merasa bosan selalu berdiam diri di rumah. Selain itu, mereka juga dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari dari hasil kerja memulung botol.
Selain rasa suka, tentu juga ada rasa duka yang didapatkan dalam melakoni profe-si sebagai pemulung botol. Rasa duka tersebut adalah panas matahari yang begitu men-yengat kulit ketika mereka sedang beraktifitas. Jika terjadi hujan dan mereka dilanda suatu penyakit, mereka tidak dapat memungut botol. Hal itu disebabkan mayoritas dari mereka adalah orang yang lanjut usia, sehingga daya tahan tubuh mereka pun lebih le-mah dari orang yang usianya masih muda. Selain itu, ada satu hal yang paling mereka tidak sukai dalam melakoni profesi ini. Yaitu harga botol yang tidak stabil dan cende-rung menurun terus-menerus dari dahulu hingga sekarang. Inilah yang membuat para pemulung botol tidak semangat bekerja memungut botol. Mereka sangat berharap kepa-da para pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib para pemulung botol yang sangat berjasa dalam usaha pemeliharaan kebersihan yang ada di Kota Palu.

D.    Sisi Positif dan Negatif Adanya Pemulung Botol
Sama halnya dengan suka dan duka, di dalam setiap pekerjaan yang dilakoni sese-orang pun ada sisi positif dan negatifnya di lingkungan masyarakat. Adanya pemulung botol di lingkungan masyarakat pun menimbulkan sisi positif dan negatif.
Sisi positif adanya pemulung botol di lingkungan masyarakat adalah semakin ber-kurangnya sampah yang berserakan di tepi jalan, sehingga pencemaran lingkungan di Kota Palu pun semakin lama akan semakin menurun. Hal sekecil ini merupakan salah satu usaha dalam mencegah terjadinya banjir yang disebabkan oleh sampah yang me-numpuk di sungai, khususnya di Kota Palu.
Sisi negatif adanya pemulung botol di lingkungan masyarakat adalah adanya para pemulung nakal yang mengambil barang-barang yang semestinya masih layak diguna-kan oleh pemiliknya. Mereka malah mengambil barang-barang tersebut dan menjualnya ke para pengumpul. Hal inilah yang sangat meresahkan masyarakat dengan adanya para pemulung.

E.     Usaha Pemerintah Menangani Permasalahan Pemulung Botol
Sejauh ini, usaha pemerintah dalam menangani berbagai masalah yang menimpa para pemulung botol belum nampak. Namun kenyataannya, adanya para pemulung bo-tol di Kota Palu ini justru malah dianggap sebelah mata oleh pemerintah. Hal ini ter-bukti dengan harga botol yang tidak pernah stabil. Semakin lama, harga botol cende-rung semakin menurun. Semestinya, pemerintah harus lebih cepat tanggap dengan per-masalahan yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tingkat perekonomi-annya yang rendah hingga yang tinggi. Sehingga akan tercipta kesejahteraan rakyat yang merata.
Jika saja di dunia ini tidak ada para pemulung, tentu saja sampah akan menumpuk terus-menerus dan tidak akan ada habisnya. Sehingga kemungkinan besar akan menim-bulkan pembuangan sampah secara sembarangan akan semakin meningkat, meluapnya sungai dan terjadinya banjir yang kapan saja dapat terjadi.
Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya memperhatikan nasib para pemulung botol agar hidupnya lebih layak. Salah satunya dengan membuat harga jual botol bekas stabil. Dengan begitu, para pemulung akan lebih semangat dalam bekerja memulung botol-botol bekas yang berserakan di Kota Palu.
Selain itu, untuk lebih menyejahterakan kehidupan para pemulung botol yang ada di Kota Palu pemerintah sebaiknya memberikan pelatihan pendidikan ilmu kewirausa-haan kepada para pemulung botol. Sehingga membuat para pemulung botol dapat mem-buka lapangan kerja sendiri bahkan bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Hal ini tentu saja dapat mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Kota Palu sedikit de-mi sedikit.

BAB V
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Mayoritas pemulung botol di Kota Palu adalah orang dewasa yang berusia 40 ta-hun ke atas. Biasanya mereka bekerja mulai dari pukul 05.00-16.00. Mereka tidak han-ya memulung botol, tetapi juga memulung sampah plastik, besi bekas, kardus dan alu-minium. Pendapatan mereka hanya berkisar antara Rp. 3.000,00 - Rp. 5.000,00 per hari. Rasa suka yang didapatkan para pemulung botol adalah dapat mengisi waktu luang di usia tua dan dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Sisi positif adanya pemulung botol di lingkungan masyarakat adalah semakin berkurangnya sampah dan sisi negatifnya adalah adanya pemulung nakal yang mengambil barang-barang yang masih layak digunakan pemiliknya. Sejauh ini, usaha pemerintah dalam menangani ber-bagai masalah yang menimpa para pemulung botol belum nampak. Pemerintah sebaik-nya memberikan pelatihan pendidikan ilmu kewirausahaan kepada para pemulung botol dan membuat harga jual botol bekas stabil.
 
B.     Saran-Saran
Disarankan kepada para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi Karya Ilmiah Remaja (KIR) ini agar mendapat pengetahuan yang lebih daripada ini. Dan penulis berharap kepada para pembaca setelah membaca KIR ini dapat mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.


DAFTAR PUSTAKA

Solikha Nofiani, Nurul. 2008. Sentra Industri Genteng Press Di Wilayah Grogol Sukaharjo. Solo: Assalaam Press.
Maryati, Kun. dan Suryawati, Juju. 2001. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis.
http://groups.google.co.id/group/pemulungbotol

0 komentar:

Poskan Komentar