Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Contact me on Twitter , Instagram , and Facebook
For Fast Respond, send email to 11.6837@stis.ac.id
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 30 Maret 2011

Tari-Tarian Tradisional di Sulawesi Tengah

Sebagai salah satu daerah di Nusantara  yang memiliki beragam kekayaan budaya leluhur, Sulawesi Tengah memiliki berbagai jenis tari-tarian tradisional yang diwariskan turun temurun. Beberapa kabupaten memiliki tarian tersendiri yang berbeda dengan daerah kabupaten lainnya, namun beberapa diantaranya telah menjadi tarian khas Sulawesi tengah, yang kerap ditampilkan saat pertunjukan seni ataupun dalam penjemputan tamu-tamu daerah, berikut jenis-jenis tarian tersebut beserta penjelasannya.


Tari Pomonte
Tarian ini merupakan salah satu tarian Sulawesi tengah yang sangat popular, baik di tingkat nasional maupun mancanegara. Karenanya tarian ini sangat sering ditampilkan dalam berbagai acara baik yang sifatnya resmi maupun tidak.
Tarian Pomonte ini menceritakan proses kehidupan atau aktifitas petani sawah, dimana dikisahkan  mulai dari menanam padi, memelihara sampai panen tiba  dan akhirnya melaksanakan pesta panen dengan adat vunja yaitu tradisi masyarakat dalam mensyukuri keberhasilan panen. Tradisi adat vunja ini masih sering dilaksanakan oleh masyarakat bila panennya berhasil dan membawa berkah bagi masyarakat setempat.

Tari Pontanu
Tari Pontanu, atau tarian penenun dari Donggala merupakan tarian khas dari kabupaten Donggala, tarian ini menggambarkan bagaimana para perempuan-perempuan di Donggala dalam menenun sarung donggala, sarung donggala adalah sarung sutera tenunan tangan asli yang dikerjakan para perempuan donggala.

Tari Peule Cinde
Tarian ini adalah prosesi penyambutan tamu agung dimana setiap tamu agung yang berkunjung disuguhi oleh tarian ini dan ditaburkan bunga-bungaan oleh para  gadis-gadis penari yang cantik.


Tarian Dero
Tari ini berasal dari tanah Poso,  melambangkan sebuah ungkapan sukacita dari masyarakat Poso khususnya mereka yang mendiami daerah sepanjang lembah Danau Poso. Dimana keidentikan tarian Dero dengan masyarakat disepanjang lembah danau Poso didasarkan pada tradisi pengucapan syukur ( padungku ) setelah memperoleh hasil pertanian khususnya dari tanaman pokok padi yang terjadi secara bergelombang daerah tersebut.
Dero itu sendiri biasanya dilakukan didaerah lokasi yang cukup luas, sebab tarian ini merupakan tarian missal dimana para penarinya adalah masyarakat setempat dimana acara tersebut digelar.
Tarian ini  merupakan tarian yang sangat simple untuk dipelajari , para peserta tarian ini  hanya berdiri berdampingan dan bergandengan tangan dengan sesama penari. kemudian melakukan hentakan kaki sekali ke kiri kemudian dua kali kekanan mengikuti alunan pantun yang sahut-menyahut yang didendangkan salah seorang yang sedang ikut menari kemudian diikuti nyanyian pantun bersama oleh seluruh penari dero dengan diiringi tabuhan gendang dan gong.


Tarian Moraego
tarian ini adalah tarian masyarakat Kulawi, Besoa dan Bada. tarian ini biasanya dilakukan apabila ada pesta perkawinan dan upacara syukur panen yang berhasil. dilakukan oleh orang-orang tua terdiri dari 6 laki-laki dan 6 perempuan yang sudah memahami benar tata cara melakukan tarian sakral ini. Para penari dapat membentuk lingkaran atau saling berhadap-hadapan sambil menyanyikan syair-syair yang mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukur kepada sang pencipta.

Sumber: infosulteng

0 komentar:

Poskan Komentar