Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Contact me on Twitter , Instagram , and Facebook
For Fast Respond, send email to 11.6837@stis.ac.id
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 30 Maret 2011

Artikel Penelitian

PENGARUH TAYANGAN TELEVISI TERHADAP
PERKEMBANGAN JIWA ANAK USIA SEKOLAH DASAR

Oleh: Nurul Solikha Nofiani

Abstrak: Di zaman yang modern seperti saat ini, muncul berbagai macam bentuk media massa, baik media cetak maupun media elekronik. Dari berbagai macam media massa tersebut tentu saja memberikan manfaat tersendiri bagi penggunanya. Ada yang menambah informasi dan wawasan, menunjang pendidikan serta ada juga yang merusak moral, sikap dan perilaku anak. Contohnya, saat ini banyak tayangan televisi yang tidak layak ditonton oleh anak, khususnya anak usia 6-11 tahun. Mulai dari film-film yang mengandung nilai-nilai kekerasan hingga sinetron-sinetron percintaan yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan sikap dan perilaku yang keras dan agresif pada anak. Namun bagi pihak pertelevisian, hal tersebut berada di luar tanggung jawab mereka. Karena mereka menganggap tayangan tersebut mereka tujukan untuk orang dewasa. Untuk itu, peran orang tua di sini sangat penting dalam mengendalikan pengaruh tayangan televisi bagi perkembangan jiwa anak, yaitu dengan mengalihkan ketergantungan anak menonton televisi dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan disukai anak. Tujuan dari penyusunan artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan jiwa anak usia sekolah dasar dan usaha mengatasi kecanduan anak menonton televisi.

Kata Kunci: media massa, pengaruh tayangan televisi, usaha mengatasi kecanduan anak menonton televisi.

PENDAHULUAN
Sudah tidak dapat dielakkan lagi bahwa kemajuan zaman akan selalu berjalan seiring dengan kehidupan manusia yang mengalami peradaban dan kebutuhannya. Perubahan tersebut akan nampak terutama disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Peradaban sosial yang menyangkut berbagai bidang kehidupan luas, tidak saja dalam ekonomi dan politik, melainkan juga di bidang pendidikan.
Pada zaman modern seperti saat ini, muncul berbagai macam bentuk media massa. Kemajuan teknologi termasuk media massa, memicu berkembangnya informasi secara cepat. Salah satu bentuk dari media massa tersebut adalah televisi.
Televisi merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengetahui informasi atau berita tentang perkembangan dunia. Namun, sekarang muncul berbagai macam tayangan televisi yang tidak layak ditonton oleh anak usia 6-11 tahun. Hal inilah yang memicu adanya dampak positif maupun negatif bagi perkembangan jiwa anak dari apa yang dilihat dan didengarnya melalui televisi.
            Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
  1. Apakah ada pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan jiwa anak usia sekolah dasar?
  2. Apa saja usaha dalam mengatasi kecanduan anak menonton televisi?
            Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui adanya pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan jiwa anak usia sekolah dasar.
  2. Untuk mengetahui usaha dalam mengatasi kecanduan anak menonton televisi.
Adapun manfaat yang dapat kita aplikasikan di kehidupan kita sehari-hari adalah sebagai berikut:
  1. Terbentuknya jiwa anak yang memiliki wawasan luas mengenai berbagai hal melalui televisi yang mendidik.
  2. Terciptanya suasana yang kondusif di tengah keluarga sehingga .

Media Massa                        
Media massa merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Sebagai bentuk komunikasi, media massa dapat memungkinkan kita melihat dan mendengar secara langsung peristiwa yang terjadi di seluruh dunia. Jika sebagai bentuk rekreasi, media massa dapat menjernihkan pikiran kita yang lelah akan bekerja. Melalui media massa, kita dapat mengetahui berbagai berita atau informasi tentang perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia.
Media massa terdiri dari media cetak (koran, majalah, buletin, tabloid, brosur dan surat kabar lainnya) dan media elektronik (televisi, radio, telegram, telepon, internet, film, kaset dan CD). Dari berbagai macam media cetak dan elektronik yang telah ada saat ini, ada yang menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang dunia serta dapat menunjang pendidikan. Namun, ada juga yang merusak moral, sikap dan perilaku anak. Saat ini anak lebih cenderung mengikuti sikap dan perilaku dari apa yang dilihat dan didengarnya. Untuk itu, tayangan televisi dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.

Tayangan Televisi
            Di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakkan para orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua yang memperhatikan ini.
Kecemasan orangtua terhadap dampak menonton televisi bagi anak-anak memang sangat beralasan, mengingat bahwa banyak penelitian menunjukkan televisi memang memiliki banyak pengaruh baik negatif maupun positif. Yang dikhawatirkan dari kalangan orang tua adalah anak-anak yang belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas, karena media televisi mempunyai daya tiru yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Namun demikian harus diakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan hiburan, pengetahuan dan informasi secara mudah melalui televisi juga tidak dapat dihindarkan. Televisi, selain selalu tersedia dan amat mudah diakses, juga menyuguhkan banyak sekali pilihan, ada sederet acara dari tiap stasiun televisi, tinggal bagaimana pemirsa memilih acara yang dibutuhkan, disukai dan sesuai dengan selera.
Banyak hal yang belum diketahui oleh seorang anak, oleh karena itu kalau tidak ada yang memberi tahu ia akan mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa. Apakah hasil percobaan maupun peniruannya benar atau salah, anak mungkin tidak tahu. Di sinilah tugas orangtua untuk selalu memberi pengertian kepada anak, secara konsisten. Kebingungan anak karena standar ganda yang diterapkan orangtua juga bisa teratasi kalau orangtua memberi penjelasan kepada anak.
Kalaupun tidak sempat mendampingi anak, orangtua sebaiknya menyeleksi program televisi mana yang benar-benar cocok untuk anak. Sebelum anak diijinkan untuk menonton program televisi tertentu, orangtua sudah mengetahui program tersebut cocok atau tidak untuk anak, jadi orangtua sudah pernah terlebih dulu menonton program tersebut dan melakukan evaluasi.

Perkembangan Jiwa Anak
Dalam kehidupan anak terdapat dua proses yang berjalan kontinyu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara independen, saling bergantung satu sama lainnya. Segala sesuatu yang berlangsung selama perkembangan anak itu adalah produk daripada interaksi pelibatan faktor lingkungan.
Pada hakekatnya, para orang tua mempunyai harapan agar anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik dan tidak mudah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Harapan-harapan ini kiranya akan lebih terwujud apabila sejak semula, orang tua telah menyadari akan peranan mereka sebagai orang tua yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Pengaruh Tayangan Televisi terhadap Perkembangan Jiwa Anak
Tidak dapat dipungkiri lagi, di antara berbagai media, televisi adalah media yang paling potensial menarik perhatian anak-anak. Media tersebut dapat menggenggam anak-anak. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak anak yang tergila-gila pada televisi. Mereka terus-menerus ingin menonton televisi. Minat anak-anak terhadap siaran televisi yang menayangkan berbagai jenis film, membuat media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar.
Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku yang keras. Selain itu, dapat pula mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak-anak. Contohnya, saat ini marak ditayangkan film-film yang mengandung nilai-nilai kekerasan. Misalnya acara smack down yang menayangkan pertandingan adu kekuatan antara dua pemain atau lebih. Bahkan, acara tersebut sudah dibuat dalam bentuk permainan. Hal inilah yang membuat anak menjadi suka berkelahi antar sesama temannya. Jika ada permasalahan sekecil apa pun, kebanyakan akan diselesaikan dengan cara kekerasan. Itulah yang membuat anak memiliki sifat tempramental yang tinggi. Tetapi, hal ini banyak terjadi pada anak laki-laki.
Banyak korban anak-anak maupun remaja yang luka-luka dan meninggal dunia akibat meniru tontonan smack down. Penayangan acara tersebut tidak memiliki nilai edukasi, malah menumbuhkan cara-cara kekerasan bahkan keganasan. Karakter tersebut mulai menjangkiti anak-anak maupun remaja sebagai penerus bangsa. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama kalangan orang tua yang mempunyai putra-putri masih anak-anak hingga menginjak dewasa.
Di samping tayangan keras seperti smack down, masih terdapat penayangan acara lain di televisi  yang sifatnya tidak memiliki nilai edukasi, tidak sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa Indonesia, bahkan membiaskan ajaran suatu agama, seperti acara yang berbau mistik, rekayasa yang tidak rasional seperti manusia jadi ular, orang mati jadi hewan yang menjijikan, acara persetanan yang sebenarnya tidak ada faktanya dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang sepintas memberikan kesan bersifat agamais, tetapi sebenarnya menyesatkan dan membodohkan masyarakat, termasuk juga tayangan-tayangan yang berbau porno.
Contoh lain, saat ini banyak sinetron-sinetron yang menceritakan tentang percintaan. Tayangan tersebut membuat anak berpikir lebih dewasa dari umur yang semestinya. Anak akan lebih suka berhubungan dengan lawan jenis (berpacaran) dari pada belajar, sehingga anak tidak akan konsentrasi dalam belajar karena lebih memikirkan pacarnya.
Sebagian orangtua bahkan tak peduli acara apa yang ditonton anaknya. Sepanjang si anak tidak bertanya atau bercerita, umumnya orangtua merasa apa pun yang disuguhkan televisi sebagai “teman” anaknya selama mereka tidak berada di rumah tak perlu dipermasalahkan.
Jika ada pengaruh buruk televisi terhadap sebagian orang, maka sebagian lainnya menganggap hal itu sama sekali bukan urusannya. Padahal, sangat mungkin pengaruh buruk itu pun mengenai anggota keluarganya, hanya dia tak cukup jeli atau punya cukup waktu untuk memperhatikannya.
Meskipun belakangan ini sebagian stasiun televisi sudah mencantumkan tanda bahwa program itu untuk orang dewasa, memerlukan bimbingan orangtua, atau memang acara yang dianggap pantas ditonton anak-anak, kenyataannya hanya sekitar 15 persen saja anak yang mengatakan selama menonton televisi didampingi oleh orangtuanya.
Memang tak semua pengaruh televisi bisa langsung tampak akibatnya pada anak-anak yang menjadi pemirsanya. Mungkin karena itulah sampai sekarang masih banyak orangtua yang membiarkan apa pun acara yang ingin ditonton anaknya, sepanjang itu tak lebih dari pukul 21.00.
Sebagian orangtua beranggapan, stasiun televisi telah menyeleksi program acaranya. Dengan demikian, semua acara yang ditayangkan sebelum sekitar pukul 21.00 relatif aman untuk konsumsi anak-anak. Padahal kalau dicermati, tak sedikit acara sebelum pukul 21.00 yang sebenarnya tak pantas ditonton anak-anak. Misalnya, film-film Warkop yang jelas-jelas selalu menyerempet pada hal-hal berbau seks.
Televisi telah mengubah cara berpikir anak. Anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi biasanya akan tumbuh menjadi sosok yang sulit berkonsentrasi dan kurang perhatian pada lingkungan sekitar. Mereka hanya terpaku pada televisi.
Iklan yang ditayangkan melalui televisi pun mempunyai potensi untuk memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup anak. Contohnya, sekarang semakin marak iklan di televisi yang mempromosikan berbagai jenis makanan ringan yang kita tidak ketahui cara pembuatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan makanan ringan tersebut secara nyata. Baik secara langsung maupun tidak langsung, anak tentu saja akan ingin mencobanya. Inilah dampak buruk yang ditimbulkan dari tayangan-tayangan televisi bagi perkembangan jiwa anak.
Selain pengaruh buruk, tayangan televisi juga memiliki pengaruh yang baik bagi perkembangan jiwa anak. Anak dapat memperkaya wawasan dan pengetahuannya dengan menonton acara-acara yang menyiarkan berita atau informasi tentang beraneka ragam peristiwa yang terjadi di seluruh dunia melalui televisi. Hal ini tentu saja akan memicu keingintahuan anak tentang sesuatu yang terjadi di sekelilingnya, sehingga mendorong anak untuk belajar lebih giat.
Setidaknya ada 4 pengaruh media televisi pada anak-anak yaitu yang dikenal dengan 4 S, yaitu selebritis, sex, sadisme dan satanisme. Selebritis yang menonjolkan gaya hidup hedonis, glamour, kemewahan ,pesta, hidup begelimang uang dan harta. Mengakibatkan hidup konsumtif dan harus tampil oke. Pengaruh iklan membuat ingin serba instant, hidup dan penampilan pun harus sesuai standar iklan. Sex menonjolkan nafsu kedagingan yang dieskploitasikan televisi, sehingga sekarang banyak kasus kejahatan seksual yang pelaku dan korban adalah anak dan remaja, perdagangan anak dan pernikahan dini.
Sadisme adalah tayangan sadis. Kekerasan menyebabkan orang menjadi cepat marah, emosional,gampang mengamuk. Satanisme adalah tayangan mistik dan film bergenre horor yang membuat anak sering ketakutan sendirian, takut gelap, dan percaya dukun.
H.J .Eysenck dan D. K. B. Nias dalam tulisannya “Sex, Violence, and the Media“, menyebutkan bahwa seseorang yang sering melihat adegan yang berbau sex dan kekerasan akan mengalami berbagai tingkat pengaruh. Pertama adalah imitasi, di mana pemirsa yang sering melihat adegan tokoh idolanya akan berusaha meniru perilaku nya, seperti, gaya bicara, gaya menanyi, gaya rambut, dan busana.
Kedua adalah identifikasi yang merupakan kelanjutan dari imitasi. Apabila imitasi hanya sekedar meniru, maka identifikasi akan lebih jauh ikut berperilaku seperti idolanya. Jika imitasi meniru sekedar lahiriah, maka identifikasi meniru perilaku kejiwaannya. Ketiga adalah runtuhnya rem pengaman. Hal ini berarti bahwa sebenarnya sifat kurang baik ada pada setiap manusia, hanya sifat ini biasanya ditekan karena pengaruh keluarga dan agama. Namun akibat seringnya orang melihat tayangan yang kurang baik di layer kaca, menyebabkan pertahannya(nilai-nilai agama/ keluarga/tradisional) runtuh dan sifat itu kemudian muncul dalam perilaku.
Keempat adalah stimulasi, atau picuan yang dihasilkan oleh adegan yang dilihat sehingga merangsang seseorang untuk melakukan adegan itu secara riil.Orang bisa jadi pemarah, pemukul, suka berkelahi baik sendiri maupun berkelompok, atau memperkosa. Kelima adalah peluapan yang biasa terjadi bila kondisi pengaruh sudah memuncak sehingga sseorang bisa saja kemudian menjadi anti social, menjadi pemerkosa massal atau pembunuh massal, karena terus menerus dipicu oleh adegan perang yang sering dilihatnya. Lama kelamaan kebiasaan ini menjadi perilaku yang meluap secara bebas tidak terkendali.
Menghadapi pengaruh televisi yang sudah begitu luas menanamkan pola hidup negative dalam masyarakat, maka umat beragama khususnya generasi muda termasuk anak-anak sudah saatnya lebih ditingkatkan pengajaran iman, teladan, pengawasan dari orang tua, pendidikan budi pekerti, serta siraman kasih dan perhatian yang murni. Hal ini dilakukan untuk mengatasi pengaruh yang begitu kuat dan luar biasa yang dihadirkan televisi dengan melimpah sehingga anak bisa terjerumus dan rusak moralnya . Mereka dilemahkan pertahanannya karena masih tidak mengerti bahwa tayangan itu membahayakan masa depan mereka, tidak mampu menolak , dan tidak bisa berkata tidak untuk kejahatan yang menggoda mereka.


Usaha Mengatasi Kecanduan Anak Menonton Televisi
            Biasanya, kecanduan anak akan televisi disebabkan oleh lemahnya kontrol oleh orang tua dalam hal penggunaan televisi. Sejak awal, jika orang tua tidak mengatur waktu menonton televisi, umumnya anak akan kecanduan televisi.
            Itulah sebabnya, untuk mengembalikan anak agar tidak lagi terus-terusan menonton televisi, yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mengontrol waktu anak menonton televisi. Untuk itu, tidak hanya diperlukan kesadaran orang tua untuk melihat bahwa ada masalah yang timbul melihat anaknya terus-menerus menonton televisi, tetapi juga tekad untuk mengubah hal tersebut. Dan tekad ini tidak perlu diwujudkan dengan cara radikal, tetapi dengan halus dan perlahan.
            Mengubah secara radikal atau tiba-tiba kebiasaan anak untuk menkonsumsi televisi dapat menjadikan kedua pihak (orang tua dan anak) menjadi frustasi. Misalnya, dengan tiba-tiba mengurangi waktu menonton televisi atau bahkan melarangnya sama sekali. Akibatnya, kemungkinan besar anak akan marah karena kebiasaannya yang selama ini sudah berjalan dengan baik tiba-tiba dihambat. Sementara orang tua akan jengkel jika anak menolak untuk taat. Konflik pun dapat terjadi.
             Anak yang kesal bisa jadi akan mencari celah lain untuk tetap melanjutkan kebiasaannya. Jika di rumah dilarang, anak bisa saja pergi ke rumah teman atau tetangga untuk menonton televisi. Kalau begini, kontrol orang tua pun akan semakin lemah, karena orang tua semakin tidak tahu apa yang ditonton anak melalui televisi.
            Untuk mengubah kebiasaan anak lebih tepat dilakukan dengan cara yang lebih halus, tidak mencolok dan perlahan. Orang tua tidak perlu mengajari anak tentang perlunya mengurangi jam menonton televisi. Tidak perlu melarangnya dengan kata-kata, karena kemungkinan besar akan ditolak anak. Akan tetapi, orang tua sebaiknya langsung bertindak.
            Karena televisi mampu merebut perhatian anak-anak, yang harus dilakukan orang tua adalah mencari tandingan untuk mengalihkan anak-anak dari televisi. Namanya saja tandingan, maka harus dicari kegiatan yang sama menariknya bagi anak-anak sehingga anak mau beralih dari televisi.
            Memang diperlukan kreativitas orang tua untuk mencari kegiatan alternatif ini. Sebagai langkah permulaan, memberikan anak-anak film-film yang sehat adalah salah satu alternatif yang bagus dari pada menonton televisi yang isinya banyak sekali yang tidak sehat. Menonton film yang sehat adalah sebuah hiburan yang mendidik bagi anak.
            Orang tua juga harus membuat suasana menonton yang menyenangkan bagi anak. Sebaiknya anak-anak didampingi sehingga momen menonton film ini pun dapat menjadi ajang kumpul keluarga yang menggembirakan dan membetahkan anak, sehingga hal ini dapat membuat anak lupa akan acara televisi favoritnya.
            Kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk mengalihkan anak menonton televisi banyak sekali. Misalnya, mengajak anak memasak (anak-anak umumnya sangat suka memasak), bermain, berkebun, jalan-jalan di lingkungan rumah, membuat prakarya, menggambar dan memperdengarkan dongeng. Dalam hal ini memang diperlukan keterlibatan orang tua penuh. Tidak cukup misalnya hanya menyuruh anak bermain, tetapi orang tua juga harus mau capek ikut bermain dengan anaknya. Tidak cukup hanya memberi kertas, gunting dan lem untuk membuat prakarya, tetapi orang tua pun harus ikut menunjukkan caranya dan berkreasi bersama anak. Tidak cukup menyuruh anak membaca dongeng, tetapi orang tualah yang harus mendongeng sambil memeluk anak. Intinya, anak tidak boleh dibiarkan sendiri. Anak harus tahu bahwa orang tua juga senasib dengannya.
Pada saatnya kelak, anak akan belajar mandiri. Anak tahu untuk menemukan kegiatan-kegiatan lain sendiri tanpa perlu dituntun oleh orang tua. Suatu saat nanti, anak akan memilih untuk bermain sendiri, untuk membaca buku dongeng sendiri, untuk menggambar sendiri dan seterusnya. Anak pun pelan-pelan akan lepas dari kecanduannya menonton televisi.
Jika kegiatan alternatif yang dilakukan anak selain menonton televisi sudah banyak dilakukan, dengan sendirinya waktu konsumsi anak akan televisi terkurangi. Pada saat inilah orang tua dapat berbicara dengan anak-anak mengenai bagaimana seharusnya sikap terhadap televisi. Dengan cara yang menyenangkan orang tua dapat berbicara dengan anak tentang perlunya waktu mengurangi menonton televisi, acara televisi apa yang boleh dan tidak boleh ditonton dan lain-lain.
Berbicara dengan anak yang dilakukan dengan lembut dan menyenangkan pada saat seperti ini, berpotensi tidak akan ditentang anak. Hal ini dikarenakan anak sudah tidak menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai kegiatan utama yang dapat dilakukannya di rumah. Anak sudah merasakan bahwa ada banyak kegiatan lain yang dapat dilakukannya dan itu sama menariknya dengan menonton televisi.
Pada saat seperti inilah aturan mengenai menonton televisi dapat dibuat dan ditegakkan bersama. Jika disampaikan dengan cara yang lembut dan menyenangkan aturan ini akan diterima dan tidak akan mengekang anak. Menarik kembali anak-anak dari ketergantungan akan menonton televisi berarti merebut anak untuk kembali masuk ke dalam kehidupan yang sehat dan itu merupakan  kewajiban orang tua.
Kita harus menyadari bahwa pola menonton televisi orangtua akan mempengaruhi pola menonton televisi anak. Ketidakmampuan orang tua dalam mengatasi ketagihan televisi menunjukan juga tingkat ketidakmampuan orangtua dalam mengatur jadwal nonton televisi anak. Sebagai orang tua, kita harus memulai mengatur hidup kita terlebih dahulu sebelum mengatur hidup anak-anak. Berhenti lebih dulu dari rokok dan mabuk sebelum menghentikan kebiasaan merokok atau minum anak. Sebagai patokan, jangan mengizinkan anak menonton lebih dari dua jam per hari di depan televisi.
Banyak orang tua menggunakan televisi sebagai pengasuh yang paling murah. Jika kita sebagai orang tua yang sungguh cinta kepada anak kita, sebaiknya hentikan kebiasaan itu. Kita perlu memberikan disiplin yang baik dalam pola menonton televisi. Sementara itu, orang tua yang suka memaksakan kehendaknya atau menakuti anak dengan menarik kasih sayangnya ternyata lebih dipengaruhi program-program anti sosial daripada pro sosial. Secara praktis, orang tua sebaiknya berinteraksi dengan anak untuk menentukan dan membimbing anak mana acara yang patut ditonton, berapa lama, dan kapan waktu menontonnya. Penjelasan yang masuk akal akan membantu anak untuk dapat menentukan pilihan tayangan televisi yang baik, benar, dan tepat.
Pada umumnya acara nonton televisi hanya untuk mengisi waktu luang. Oleh karena itu, merencanakan kegiatan pengganti untuk nonton televisi perlu diadakan. Kita harus mengajak anak untuk bermain bersama. Pergi ke perpustakaan, hiking, camping, atau jalan-jalan bersama akan lebih berguna daripada menonton televisi. Bermain komputer tidak sama dengan menonton televisi. Komputer lebih bersifat interaktif daripada televisi. Namun demikian, kita harus menyadari bahwa komputer adalah benda mati yang tidak berjiwa, tidak bisa tersenyum dan memberikan kehangatan seperti orang tua. Ia tak bisa menggantikan orang tua. Oleh karema itu bermain komputer juga perlu dibatasi.
Pemerintah juga harus memberikan batasan yang tegas untuk penayangan  yang  mendidik untuk masyarakat kepada media televisi, ketat mengawasi ,dan djangan  hanya ingin memikirkan bisnis  yang menguntungkan saja.

KESIMPULAN
            Media massa merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Televisi adalah media yang paling potensial menarik perhatian anak. Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan sikap dan perilaku yang keras dan agresif pada anak, khususnya anak usia 6-11 tahun. Iklan yang ditayangkan melalui televisi pun memiliki potensi untuk memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup anak. Pengaruh yang baik tayangan televisi bagi perkembangan jiwa anak adalah dapat memperkaya wawasan anak dengan menonton acara-acara yang menyiarkan berita tentang peristiwa yang terjadi di dunia.
Untuk mengatasi kecanduan anak menonton televisi adalah dengan mengalihkan kebiasaan anak menonton televisi dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan disukai anak. Selain itu orang tua juga harus membatasi jam menonton anak agar anak tidak terpaku dengan televisi seharian penuh. Di sini, peran orang tua sangat penting.







DAFTAR PUSTAKA

Maryati, Kun dan Suryawati, Juju. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis.
Tim Bina Karya Guru. 2003. IPS Terpadu untuk Sekolah Dasar Kelas 5. Jakarta: Erlangga.
Armando, Nina. Edisi 11/XVII Maret 2006. Ummi.

0 komentar:

Poskan Komentar