Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Contact me on Twitter , Instagram , and Facebook
For Fast Respond, send email to 11.6837@stis.ac.id
English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 30 Maret 2011

Proposal Penelitian

PENGARUH PENDIDIKAN TK TERHADAP PRESTASI BELAJAR MURID KELAS I SD INPRES 3 TALISE

 oleh: Nurul Solikha Nofiani
  

1.  PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam penyiapan sumber daya manusia. Oleh karena itu para ahli, filsafat, pendidikan, psikologi selalu berusaha mencari terobosan, strategi dan pardigma baru dalam berbagai jenjang dan bentuknya. Salah satunya adalah pendidikan anak usia dini, baik bentuk dan jenisnya serta lembaga pelaksananya, melalui jalur formal maupun non formal, secara sistematis.
Sebagaimana kita ketahui bahwa anak usia dini adalah usia emas dan sekaligus juga usia kritis jika kita tidak dapat memfasilitasi proses tumbuh kembangnya. Pendidikan anak usia dini adalah penanaman investasi masa depan yang tidak dapat diukur dengan materi, secara kuantitas yang akan berperan dalam proses pembangunan. Anak merupakan asset nasional yang sangat penting, yang akhirnya menjadi manusia perencana, pelaksana sekaligus sebagai penentu terhadap keberhasilan pembangunan. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas sangat diharapkan proses pembangunan akan terarah dan dapat tercapai sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Untuk mencapai semua itu, maka pendidikan anak usia dini tidak dapat ditawar atau ditunda lagi sebagai bagian dari proses pendidikan baik jalur formal maupun non formal.
Selanjutnya disebutkan bahwa pendidikan taman kanak-kanak adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik fisik maupun psikis yang meliputi moral dan nilai agama, disiplin, sosial emosional, kemandirian dan tanggung jawab, bahasa dan seni serta kemampuan yang optimal yang dapat dilihat melalui aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik untuk siap memasuki pendidikan dasar, sehingga dalam proses belajar mengajarnya pun disesuaikan dengan taraf perkembangan anak yakni bermain sambil belajar, belajar seraya bermain.
Proses pendidikan erat kaitannya dengan keberhasilan belajar murid yang pengembangannya tidak hanya berkisar pada murid yang berprestasi normal tetapi juga harus mencakup murid yang lamban dalam berprestasi. Dalam proses belajar murid mempunyai hak dan kedudukan yang sama untuk menjadi manusia-manusia sukses yang dicita-citakan masyarakat, bangsa dan negara. Setiap orang belajar pasti menginginkan hasil yang baik, tetapi tidak semua orang yang belajar dapat mencapai kesuksesan sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, pendidikan taman kanak-kanak merupakan proses yang sangat strategis dalam menyiapkan anak pada taraf pendidikan selanjutnya.
Sehubungan dengan kenyataan ini, maka tidak dapat dipungkiri bahwa di SD Inpres 3 Talise terjadi juga hal demikian. Ini disebabkan ada sebagian murid yang masuk sekolah dasar melalui jenjang pendidikan TK dan ada sebagian murid juga yang tidak melalui jenjang pendidikan TK secara teoritis bahwa anak yang melalui pendidikan di taman kanak-kanak akan lebih berhasil memasuki pendidikan selanjutnya jika dibandingkan dengan anak yang tidak dari taman kanak-kanak. Hal itu dikarenakan anak di taman kanak-kanak sudah dilatih, digali potensinya, dikembangkan bakat dan minatnya, dipupuk keberaniannya dan dikembangkan intelegensinya, serta diberdayakan aspek-aspek lain yang dimiliki anak. Apakah proses tumbuh kembang  yang telah diperolah di taman kanak-kanak tersebut dapat pula berpengaruh atau ada hubunganya dengan prestasi di sekolah dasar dan pendidikan selanjutnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian yang berkaitan dengan pengaruh pendidikan TK terhadap prestasi belajar murid kelas 1 SD Inpres 3 Talise.

1.2            Rumusan Masalah

Dari uraian di atas peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.         Apakah ada perbedaan prestasi belajar antara murid yang melalui jenjang pendidikan TK dengan murid yang tidak melalui jenjang pendidikan TK murid kelas 1 SD Inpres 3 Talise?
2.         Apakah ada pengaruh antara pendidikan di TK dengan prestasi belajar  murid di SD Inpres 3 Talise?

1.3            Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar antara murid yang melalui jenjang pendidikan TK dengan murid yang tidak melalui jenjang pendidikan TK kelas 1 SD Inpres 3 Talise.
2.      Untuk mengetahui pengaruh antara pendidikan di TK dengan prestasi belajar murid kelas 1 di SD Inpres 3 Talise.

1.4            Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut:
1.      Bagi anak, dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam proses belajar agar selalu berusaha meningkatkan motivasi, aktifitas, mengerjakan tugas, memperhatikan penjelasan guru, latihan secara berjenjang dan terus  menerus guna meningkatkan prestasi yang akan dicapai.
2.      Bagi orang tua, agar menyadari bahwa pentingnya memasukkan anaknya ke jenjang pendidikan TK atau program pendidikan anak usia dini jalur non formal seperti kelompok bermain, taman penitipan anak, satuan PAUD sejenis, sekolah minggu, bina iman aktif di kegiatan posyandu, dan lain-lain. Hal itu perlu dilakukan oleh para orang tua untuk membantu proses tumbuh kembang anak dengan memfasilitasinya yang tidak terpenuhi di rumah, bisa diperoleh dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
3.      Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode yang cocok untuk diterapkan pada anak yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Di samping itu juga sebagai masukan bahwa anak memiliki perbedaan individu yang juga sangat berpengaruh dalam mencapai prestasi belajar anak.
4.      Bagi kepala sekolah, dapat memberikan sumbangan pemikiran atau acuan dalam proses penerimaan murid baru untuk mempertimbangkan anak-anak yang belum atau tidak memiliki tanda tamat belajar taman kanak-kanak. Jika memungkinkan dalam penerimaan murid baru diprioritaskan terlebih dahulu yang berlatar belakang taman kanak-kanak.
5.      Bagi tokoh masyarakat, memberikan informasi bahwa pendidikan TK mempunyai pengaruh yang sangat penting di dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini perlu diperhatikan oleh   para tokoh masyarakat untuk memotivasi warganya agar memasaukakan  anaknya yang  ke taman kanak-kanak atau program PAUD lainnya.
6.      Bagi lembaga terkait, hendaknya selalu memberikan sosialisasi tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), secara terus menerus dan berkesinambungan. Upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya PAUD menjadi tanggung jawab kita bersama dan dilakukan bukan hanya kepada masyarakat langsung tetapi juga kepada para pengambil kebijakan yang akan berkaitan dengan progam dan pengalokasian dana, kebijakan dan lain-lain.

1.5            Asumsi dan Keterbatasan Penelitian

Peneliti mengajukan asumsi bahwa keberhasilan yang diperoleh saat ini sangat erat kaitanya dengan proses pendidikan sebelumnya baik yang diperoleh di rumah maupun di sekolah secara berjenjang. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini terletak pada hubungan antara anak yang melalui jenjang pendidikan TK dengan prestasi belajar dibandingkan dengan anak yang yang tidak melalui jenjang pendidikan TK.

1.6            Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah SD Inpres 3 Talise yang berlokasi di Jalan Dayodara, Kecamatan Palu Timur dengan sasaran utama adalah murid kelas 1 SD Inpres 3 Talise.

1.7            Definisi Operasional

1.7.1      Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu petumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memilikim kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, seperti pemberian gizi, imunisasi, penggunaan Alat Permainan Edukatif (APE), latihan fisik motorik, perhatian kasih sayang pembiasaan  disiplin dll.
2.7.2      Pengertian Pendidikan Taman Kanak-kanak
Pendidikan taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan progam pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Adapun bentuknya seperti Raudatul adfal bustanul adfal.
3.7.3      Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah merupakan pernyataan kemampuan anak didik yang diharapkan dalam menguasai sebagian atau kompetensi yang dimaksud. Hasil belajar juga merupakan hasil kegiatan setelah anak mangalami pembelajaran dalam kompetensi tertentu seperti perolehan angka atau nilai, perubahan perilaku dan sikap positif.

2.  KAJIAN PUSTAKA

 2.1            Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

2.1.1      Pendidikan anak usia dini (PAUD)
Pada hakekatnya pendidikan anak usia dini adalah merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Prosesnya dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Secara operasional bisa dilakukan melalui jalur formal maupun non formal dengan berbagai bentuk dan jenisnya.  Menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Pasal 1 butir 14 bahwa “pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggara pendidikan yang menitik beratkan pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

2.1.2      Tujuan dan sasaran PAUD
Tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini ada dua, yaitu tujuan utama adalah untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat pekembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. Sedangkan tujuan penyerta yaitu untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Sasaran akhir pendidikan anak usia dini adalah anak usia 0 - 6 tahun. Untuk mencapai sasaran akhir ini diperlukan sasaran antara lain:
1)     Orang tua yang memiliki anak usia 0 - 6 tahun.
2)     Pendidik dan pengelola pendidikan anak usia dini.
3)     Lembaga atau masyarakat yang menyelenggarakan PAUD.

2.1.3      Strategi belajar PAUD
Pentingnya masa anak dan karakteristik anak usia dini, menuntut pendekatan pembelajaran yang memusatkan pada anak. Peran pendidik dalam pelaksanaaan pembelajaran adalah menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak melalui bermain.
Anak belajar dengan bermain, istilah yang umum digunakan adalah bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Bagi anak, bermain adalah suatu kegiatan yang serius, namun mengasyikkan. Melalui aktifitas bermain berbagai hasil karyanya terwujud. Dengan bermain, anak akan menemukan medium untuk mencoba diri bukan saja dalam fantasinya, tetapi juga benar nyata secara aktif.

2.1.4      Syarat-syarat media pembelajaran PAUD
Syarat-syarat utama media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini adalah:
1)   Aman
Alat Permainan Edukatif (APE) harus aman artinya bahan maupun bentuknya tidak berbahay bagi anak, misalnya bahan cat tidak beracun (non toxic), tidak lancip dan tidak tajam.
2)   Mengembangkan kemampuan anak
APE harus mengembangkan kemampuan anak, yaitu meliputi delapan jenis kecerdasan; kecerdasan logika matematika, spasial, kineastetik, musik, naturalistik, intrapersonal, interpersonal, linguistik dan spiritual.
3)   Sesuai bentuk dan ukuran
Bentuk dan ukuran APE yang digunakan untuk anak harus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, yaitu tidak terlalu besar atau tinggi dan tidak terlalu kecil sesuai dengan usia anak.
4)   Menarik
APE sebaiknya didesain sedemikian rupa sehingga anak tertarik untuk mengambil, dan kemudian memainkannya. Pada umumnya dibuat warna-warna yang mencolok. Anak pada saat pertama akan tertarik pada warna yang mencolok, kemudian pada bentuk dan kemudian pada cara bermain bahan tersebut.
5)   Tidak bertentangan dengan nilai sosial dan agama
Mendidik anak tidak semata-mata mengembangkan kemampu-an anak saja, tetapi juga membentuk anak yang menjadi anak yang bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sehingga APE yang digunakan anak pun sebaiknya tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat di mana anak bertempat tinggal.

2.2            Pengertian Pendidikan Taman Kanak-Kanak

2.2.1      Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Dalam mencapai kedewasaannya, anak-anak juga perlu mendapat-kan bimbingan atau pendidikan agar dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin pendidikannya pun harus sesuai dengan dunia anak. Semua sarana dan prasarana serta kurikulum dibuat dan diusahakan yang mendukung dunia bermain sambil belajar.
Pendidikan TK sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 (dalam Depdiknas 2006) tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 28, ayat 3 bahwa “merupakan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang bertujuan membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, kognitif, bahasa, fisik/motorik dan seni untuk siap memasuki sekolah dasar.”
Pendidikan TK harus dapat mengembangkan potensi anak didik agar berani menghadapi problema, mempunyai daya saing dan ketahanan yang tinggi. Untuk itu, diperlukan pendidikan yang dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara kreatif menemukan solusi dan mampu mengatasinya.
Hal diatas akan diperjelas kembali oleh para tokoh-tokoh pendidikan anak. Menurut Jean Piaget (1896-1980) (dalam Soemiarti Patmonodewo: 2000; 11). Piaget menjelaskan tiga cara bagaimana anak sampai pada mengetahui sesuatu. Kategori pertama dari cara tersebut adalah: “melalui interaksi sosial”, yaitu mempelajari sesuatu dari manusia lain. Kategori kedua dalam mengetahui adalah: “melalui pengetahuan fisik” dari suatu benda. Kategori ketiga dalam mengetahui adalah disebut “logicomathematical.” Kategori ini meliputi tentang angka, seriasi, klasifikasi, waktu, ruang, dan konservasi.
Jadi pendidikan ini melalui interaksi antara sesama manusia dengan manusia lain dan dapat mepelajari melalui dari suatu benda yang dilihat oleh anak tersebut. Serta anak tersebut dapat mengenal angka-angka, melalui benda-benda dengan cara permainan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Menurut David Elkind (dalam Soemiarti Patmonodewo: 2000; 15) bahwa “pendidikan anak-anak tidak dapat dipersiapkan untuk menghadapi stres dengan mengalami lebih dahulu pada awal kehidupan mereka.” Artinya bahwa anak-anak dapat dukungan yang kuat dalam bermain dan kegiatan yang dipilih anak sendiri.
Dari pendapat kedua tokoh di atas dapat disimpukan bahwa sejak bayi anak berkembang secara fisik, mental, sosial dan emosional. Sementara itu beberapa hal dari perkembangan tersebut berhubungan dengan kematangan. Kemampuan anak berjalan, berbicara, berfikir dengan penalaran dipengaruhi oleh kematangan seseorang, namun juga dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya. Pendidikan dimulai sejak awal kehidupan anak, orang tua melatih atau mengajar anak bicara dan berjalan. Mereka mengajar atau melatih anak dala keterampilan mengurus diri, sopan santun, nilai-nilai dan mengenal berbagai objek yang ada disekitarnya. Orang tua dan anggota keluarga yang lain menjadi guru pertama bagi anak, mereka menstimulasi perkembangan fisik dan mental anak.
Oleh sebab itu kira-kira apa alasan orang tua memasukan anaknya ke-TK? Pada umumnya jawaban yang akan diberikan adalah agar anak memiliki teman-teman bermain atau kesempatan untuk bersosialisasi. Alasan yang kedua adalah mempersiapkan anak masuk SD. Bila dikaji lebih dalam lagi yaitu agar anak dapat bersosialisasi merupakan gambaran harapan orang tua agar anak lebih bermotivasi mempelajari keterampilan tertentu melalui teman-temannya sehingga anak yang penakut menjadi lebih berani, anak yang masih cadel jadi punya kesempatan melatih alat motorik bicaranya. Maka dengan demikian anak perlu melalui jenjang pendidikan TK.

2.2.2      Fungsi dan tujuan pendidikan TK (dalam Depdiknas: 2005; 3)
1)     Fungsi
      Fungsi pendidikan taman kanak-kanak adalah sebagai berikut:
a.      Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak.
b.     Mengenalkan anak dengan dunia sekitar.
c.      Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.
d.     Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosial-isasi.
e.      Mengembangkan keterampilan, kreativitas dan kemampuan yang dimiliki anak.
f.       Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.
2)     Tujuan
      Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama sosial, emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.
TK merupakan salah satu alat pendidikan pra sekolah yang dikenal oleh anak didik. Oleh sebab itu TK perlu menciptakan situasi pendidikan yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak didik.
Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alami anak untuk menemukan lingkungan orang lain dan dirinya sendiri. Pada prinsipnya, bermain mengandung proses dari pada hasil akhir. Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran kondisinya, disesuaikan dengan perkembangan umum dan kemampuan anak didik dari bermain sambil belajar dikembangkan menjadi belajar sambil bermain (unsur belajarnya lebih banyak). Oleh karena itu, dalam memberi kegiatan belajar pada anak didik harus diperhatikan kematangan atau tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau alat bantu, metode yang digunakan waktu dan tempat bermain.

2.2.3      Arah kegiatan pendidikan TK
Dalam menyusun rencana kegiatan pendidikan diarahkan pada tiga peran pendidikan anak usia dini, yaitu:
1)      Pendidikan sebagai proses belajar dalam diri anak
Anak harus diberikan kesempatan untuk belajar secara optimal, kapan saja dan dimana saja. Implementasinya terwujud dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mendengar, melihat, mengamati dan menyentuh benda-benda di sekitarnya.
2)      Pendidikan sebagai proses sosialisasi
Pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan dan membuat anak terampil, tetapi juga membuat anak menjadi manusia yang bertanggungjawab, bermoral dan beretika. Pendidikan yang mempersiapkan anak untuk mampu hidup sesuai dengan tuntutan zaman di masa depan.
3)      Pendidikan sebagai proses pembentukan kerjasama peran
Dengan demikian anak dapat mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling melengkapi. Manusia membutuhkan orang lain karena secara individual mempunyai kekurangan dan di sisi lain memiliki kelebihan yang dapat memberikan nilai tambah bagi orang lain.
Adapun aspek-aspek pengembangan terhadap diri anak usia dini, (dalam Depdinas: 2005; 3-5) yaitu:
1)      Pengembangan moral dan nilai-nilai agama.
2)      Pengembangan fisik.
3)      Pengembangan bahasa.
4)      Pengembangan kognitif.
5)      Pengembangan sosial emosional.
6)      Pengembangan seni.
 Adapun kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai pada masing-masing aspek pengembangan adalah:
1)      Pada aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama.
2)      Pada aspek pengembangan fisik, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengelola dan keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik (panca indera).
3)      Pada aspek pengembangan kemampuan berbahasa, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar.
4)      Pada aspek pengembangan kemampuan kognitif, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan alasan dan menemukan hubungan sebab akibat.
6)      Pada aspek pengembangan sosial emosional, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman sosial dan budaya serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri dan rasa memiliki.
7)      Pada aspek pengembangan seni, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan serta menghargai hasil karya yang kreatif.
Menu pembelajaran diarahkan pada pencapaian kompetensi sesuai dengan tingkatan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam hal ini tingkatan pertumbuhan dan perkembangan anak dibagi dalam kelompok umur. Indikator kemampuan merupakan hasil belajar yang lebih spesifik dan terukur dalam satu kompetensi dasar. Indikator-indikator kemampuan dalam program kegiatan pendidikan ini merupakan indikator kemampuan minimal yang disusun berdasarkan gradasi tingkat kemampuan.

2.2.4      Pelaksanaan kegiatan pendidikan TK
Perencanaan kegiatan pendidikan diarahkan pada upaya pencapaian hasil belajar. Teknik penyusunan perencanaan ini lebih lanjut diatur dalam pedoman penyusunan rencana kegiatan.
Adapun proses pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini adalah sebagai berikut:
1)      Merancang suasana pembelajaran
a.      Ruangan dan halaman perlu diatur guna menumbuhkan atau membangkitkan minat bereksplorasi anak dengan cara meletakkan media pembelajaran secara menarik. Pengaturan ruangan dan halaman dapat disesuaikan dengan tema mingguan.
b.     Metode pembelajaran yang dipilih hendaknya merangsang anak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
2)      Menjalankan/melaksanakan pembelajaran
a.      Proses pembelajaran tidak perlu diatur dalam tata urutan yang ketat. Anak hendaknya diberi kesempatan untuk memilih acara kegiatan pembelajarannya.
b.     Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sebaiknya dimulai dengan kegiatan yang dapat merangsang minat anak.
c.      Kegiatan yang dijalankan anak dalam satu hari hendaknya bervariasi antara kegiatan yang bersifat ramai dan kegiatan yang melatih konsentrasi anak.
Pengaturan proses pembelajaran lebih lanjut diatur dalam pedoman pengelolaan proses pembelajaran. Kegiatan penilaian bertujuan untuk mendapatkan berbagai informasi secara jelas, berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan anak didik.
Adapun prinsip-prinsip penilaian, yaitu:
1)      Menyeluruh, penilaian mencakup aspek proses dan hasil pengembangan yang secara bertahap menggambarkan perubahan perilaku.
2)      Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran menyeluruh terhadap hasil pembelajaran.
3)      Obyektif, penilaian dilakukan subyektif mungkin dengan memperhatikan perbedaan dan keunikan perkembangan anak, di mana tidak selalu memberikan penafsiran yang sama terhadap gejala yang sama.
4)      Mendidik, hasil penilaian digunakan untuk membina dan memberikan dorongan kepada anak didik dalam meningkatkan kemampuannya sehingga anak dapat mengembangkan “rasa berhasil” nya.
5)      Kebermaknaan, hasil penilaian harus bermakna, bagi guru atau pamong belajar orang tua, anak didik dan pihak lain yang memerlukan.
      Selanjutnya cara penilaian yang diterapkan, yaitu:
1)      Pengamatan, yaitu suatu cara untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Pencatatan anekdot, yaitu sekumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu. Hal-hal yang dicatat meliputi seluruh aktivitas anak yang bersifat positif dan negatif.
3)      Portofolio, yaitu penilaian berdasarkan kumpulan hasil kerja anak yang dapat menggambarkan sejauh mana keterampilan anak berkembang.
Laporan penilaian berupa laporan perkembangan anak dalam bentuk deskripsi atau uraian singkat tentang perkembangan anak yang telah dicapai pada setiap pertemuan yang dilaporkan kepada orang tua secara berkala. Pengaturan penilaian lebih lanjut diatur dalam pedoman penilaian dan pelaporan.

2.3            Pengertian Prestasi Belajar
2.3.1      Prestasi
Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu “prestatie.” Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha.” Istilah prestasi telah banyak diungkapkan oleh para ahli. Menurut Mas’ud Kasam (1987; 276) prestasi adalah “pekerjaan yang berhasil, prestasi ini menunjukkan kecakapan suatu manusia atau suatu bangsa.”
Lebih lanjut Tim Pusat Bahasa (2007; 895) mengartikan kata prestasi adalah ”hasil yang dikerjakan, yang telah dicapai anak asuhannya, anak itu telah menumbangkan rekor sebelumnya.”
Selanjutnya Poerwadarminta (1987; 823) dalam Ambo (1990; 12) mengartikan kata prestasi adalah “hasil yang dicapai (dari hasil yang telah dilakukan). Misalnya, seoraang pelari akan memperoleh hasil prestasi yang gemilang jika ia tekun berlatih.”
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan nyata yang berupa kemampuan, kecakapan, atau nilai yang dicapai seseorang. Jadi prestasi merupakan hasil pekerjaan seseorang yang dapat dinikmati.

2.3.2      Belajar
Para ahli pendidikan memberikan batasan tentang pengertian belajar berbeda-beda meskipun secara mendalam pada prinsipnya terkandung pemahaman yang dapat ditemukan unsur-unsur kesamaannya. Salah satu pengertian belajar dijelaskan oleh Morganetal (dalam Maxinus Jaeng: 2008; 2) bahwa belajar adalah “setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.”
Berdasarkan pengertian belajar di atas dapat dipahami bahwa dengan belajar menunjukkan suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan tersebut khusus perubahan tingkah laku yang di dalamnya terdapat unsur-unsur seperti pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik). Jadi, yang namanya belajar harus ada perubahan. Artinya bagi mereka yang belajar namun kemudian ternyata tidak ada perubahan apa-apa dalam dirinya, maka sama saja dengan orang yang tidak belajar.
Sebuah perubahan dikatakan hasil belajar apabila didorong oleh kekuatan mental berupa keinginan, perhatian kemauan atau cita-cita sebab perubahan akibat belajar bersifat relatif tetap atau permanen, tidak mudah hilang. Misalnya orang yang sudah belajar naik sepeda, maka keterampilan mengemudi sepeda akan dimilikinya selama ia hidup. Berbeda dengan perubahan sikap tidak sabar akibat pengaruh alkohol hanya bersifat sementara setelah pengaruh alkohol hilang maka orang tersebut akan sadar kembali sehingga tidak dapat dikatakan sebagai hasil belajar, walaupun merupakan suatu bentuk perubahan akibat dari interaksi dengan lingkungan.
Hal ini sejalan dengan pengertian belajar yang dikemukakan oleh W.H. Burton (dalam Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati: 2000; 4) berpendapat bahwa “belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya.”
Pendapat di atas dapat dikatakan bahwa belajar pada hakekatnya adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar dan menghasilkan perubahan pada diri seseorang. Jadi intinya adalah bahwa orang yang belajar tidak sama keadaannya dengan sebelum seseorang melakukan perbuatan belajar. Pada era globalisasi sekarang ini makin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka belajar merupakan suatu kebutuhan hidup manusia dalam mengembangkan ilmu. Tanpa belajar manusia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan yang senantiasa berubah. Dengan demikian jelas bahwa belajar merupakan suatu tuntunan yang harus dipenuhi sepanjang hayat dalam kehidupan manusia.
Dengan pandangan tersebut hendaknya mengungkapkan bahwa sesungguhnya belajar adalah suatu proses dan upaya seseorang untuk memperoleh perkembangan atau perubahan dari tingkah laku akibat pengalaman dan latihan yang dialaminya dan berlangsung secara terus-menerus. Dalam hal ini dimana seseorang anak sangat perlu diberikan pengalaman dan latihan, supaya tingkah laku mereka mengalami perubahan ke arah tujuan yang lebih baik dari sebelumnya.
Belajar sebagai proses untuk mengalami perubahan tingkah laku baru berdasarkan latihan dan pengalaman seseorang sebagai kemampuan-kemampuan pengembangan pengetahuan atau kemampuan mental yang semakin meningkat akibat upaya pembelajaran di sekolah dan minat belajar serta lingkungan di mana anak itu berada. Hasil belajar itu akan nampak setelah dilakuka evaluasi oleh guru. Secara formal hasil belajar itu diberikan oleh sekolah atau guru setelah melalui evaluasi yang menyatakan dengan nilai atau angka-angka sebagai gambaran terhadap kuantitas maupun kualitas pengetahuan yang diperoleh anak.

2.3.3      Prestasi belajar
Prestasi belajar satu masalah yang bersifat perenial dalam sejarah kehidupan manusia karena sepanjang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuannya masing-masing. Bila demikian halnya, kehadiran prestasi belajar dalam kehidupan manusia pada tingkat dan jenis tertentu dapat memberikan kepuasan tertentu pula pada manusia, khusus manusia yang berada pada bangku sekolah. Prestasi belajar semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama antara lain:
1)      Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
2)      Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum pada manusia (Abraham H. Moslow: 1987), termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.
3)      Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi program. Asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berperan sebagai umpan balik (feed back) dalam meningkatkan mutu pendididkan.
4)      Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan anak didik di masyarakat. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan relevan pula dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.
5)      Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadat daya serap (kecerdasan) anak didik. Dalam proses belajar mengajar anak didik merupakan masalah yang utama dan pertama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.
Jika dilihat dari beberapa pengertian prestasi belajar di atas, maka betapa pentingnya kita mengetahui prestasi belajar anak didik, baik secara perseorangan maupun secara kelompok, sebab fungsi prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator kualitas institusi pendidikan. Di samping itu, prestasi belajar juga berguna sebagai umpan balik bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sehinga dapat menentukan apakah perlu mengadakan bimbingan atau penempatan anak didik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Cronbach (1960; 2), kegunaan prestasi belajar banyak ragamnya tergantung pada ahli dan versinya masing-masing diantaranya sebagai berikut:
a.       Sebagai umpan balik bagi pendidik dalam mengajar.
b.      Untuk keperluan diagnostik.
c.       Untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan.
d.      Untuk keperluan seleksi.
e.       Untuk keperluan penempatan atau penjurusan.
f.        Untuk menentukan isi kurikulum.
g.       Untuk menentukan kebijakan sekolah.

2.3.4      Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Sebelum lebih jauh membahas faktor-faktor belajar termasuk di dalamnya faktor penghambat dalam belajar, maka terlebih dahulu, perlu dipahami arti faktor dan penghambat itu sendiri sebagaimana dijelaskan oleh Poerwadarminta (1990; 30-97) “Faktor yaitu keadaan peristiwa yang menyebabkan atau mempengaruhi terjadinya sesuatu kegiatan, terutama dalam hal proses belajar. Selain itu penghambat yaitu pemisah penghalang sehingga tidak terjadi penyatuan atau percampuran dalam kegiatan anak mengelola dan mempelajari materi yang disajikan dalam kegiatan belajar mengajar.”
Sedangkan faktor-faktor adalah beberapa peristiwa yang menghambat atau sebagai penghalang untuk tidak terlaksananya suatu kegiatan. Dengan demikian faktor-faktor adalah suatu keadaan atau peristiwa-peristiwa yang menyebabkan atau penghalang sehingga tidak terjadi penyatuan percampuran dan pengaruh dalam tindakan yang dilaksanakan. Maka dapat diartikan bahwa faktor-faktor penghambat itu segala sesuatu atau peristiwa-peristiwa yang menghalangi tidak terjadi percampuran atau pengaruh terhadap berlangsungnya pelaksaan sesuatu kegiatan, terutama yang dimaksudkan adalah proses belajar anak.
Ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi terhadap proses dari hasil belajar. Kedua kelompok faktor tersebut adalah faktor internal dan faktor eksternal. Selanjutnya Suryabrata (1989; 109) mengemukakan bahwa pada dasarnya ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anak, yaitu:
1)      Faktor dari dalam diri orang yang belajar (internal), yang termasuk faktor internal adalah sebagai berikut :
a.      Faktor jasmaniah
Faktor jasmaniah adalah sebab-sebab yang berhubungan dengan kondisi fisik (jasmani), yang termasuk dalam kategori ini adalah kurang sehat dan cacat jasmani.
b.     Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah sebab-sebab yang berhubungan dengan kejiwaan anak, yang termasuk kategori ini adalah inteligensi, bakat, minat dan motivasi.
2)      Faktor yang berasal dari luar diri seseorang (eksternal), yang termasuk faktor eksternal adalah sebagai berikut :
a.      Faktor keluarga
Anak yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
b.      Faktor sekolah
Sekolah sebagai tempat belajar yang mementingkan kemajuan, dapat juga merupakan penyebab kesulitan belajar. Hal ini terjadi manakala di sekolah, guru-guru, alat belajar, kondisi fisik, kurikulum, metode belajar mengajar, dan sebagainya kurang berinteraksi dengan baik.
c.       Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Pengaruh ini terjadi karena keberadaan anak di dalam masyarakat. Lingkungan masyarakat selain merupakan tempat pendidikan yang dapat memperlambat cara proses belajar anak juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar anak.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi prestasi belajar anak. Belajar akan lebih baik dan optimal kalau faktor-faktor tersebut dapat dimanfaatkan.          

2.4            Pengaruh antara Pendidikan TK dengan Prestasi Belajar
Secara teoritis  bahwa anak yang mengikuti pendidikan di taman kanak-kanak akan mempunyai keberanian dan lebih siap untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Proses pembelajaran yang diperoleh di taman kanak-kanak apakah itu berupa rangsangan motorik halus kasar dan rangsangan lain dengan menggunakan alat permainan edukatif ataukah berupa penanaman disiplin melalui pembiasaan. Pembelajaran yang berupa penanaman konsep ini diharapkan menjadi fondasi awal peletak dasar pengetahuan disiplin dan pengalaman belajar yang akan dikembangkan pada jenjang selanjunya. Anak usia lima tahun adalah merupakan usia emas dalam meletakkan semua konsep nilai moral disiplin dan sekaligus juga usia kritis jika tidak dapat mefasilitasinya. Orang tua, saudara dan orang dewasa disekitarnya serta guru sangat berpengaruh pada tahun pertama pertumbuhannya.
Gambaran pentingnya pendidikan pra sekolah atau pada anak usia dini sangat sesuai dengan fungsi atau pengertian dari pendidikan anak usia dini yang dimuat dalam Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Taman Kanak-Anak Dan Raudatul Adfal (Depdiknas: 2005; 2) adalah ”merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidkan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”  Dari pengertian tadi jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa taman kanak-kanak mempunyai peranan atau pengaruh yang sangat strategis sebagai peletak dasar atau fondasi awal dalam perjalanan pendidikan anak selanjutnya. Kualitas pendidikan anak pra sekolah sangat mempengaruhi atau mewarnai proses pendidikan selanjutnya, seberapa besar pengaruhnyan meskipun masih harus ditunjang dengan faktor lain.
Banyak teori yang bisa dijadikan rujukan dalam mengkaji apakah pendidikan awal yang diperoleh anak dapat mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Lebih jelas lagi kalau kita menghubungkan dengan pengertian pendidikan anak usia dini  UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 1 adalah ”suatu upaya untuk pembinaan yang ditujukan kepada anak-anak sejak lahir sampai usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki  pendidikan lebih lanjut.”
Dari beberapa kajian di atas jelaslah bahwa anak perlu disiapkan  untuk menyongsong masa depanya dengan membantu proses tumbuh kembangnya. Lingkungan dari luar terutama pendidikan memegang peran yang sangat strategis dalam upaya mempersiapkan dan memberdayakan semua potensi yang dimiliki anak. Olehnya itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak pra sekolah yang merupakan bagian dari proses pendidikan secara keseluruhan sangat mempengaruhi pada tahap-tahap selanjutnya. Kualitas pendidikan yang diperoleh sebelum memasuki pendidikan formal SD dan seterusnya sangat diwarnai oleh pendidikan atau pengalaman belajar sebelumnya. Sehingga secara empiris maupun teoritis dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan TK sangat mempengaruhi pendidikan selanjutnya termasuk hasil belajarnya

 3.     KERANGKA TEORI

 4.  METODE PENELITIAN

 4.1            Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah terdiri dari dua macam variabel, yaitu variabel bebas adalah pendidikan TK yang diberi simbol X, sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar yang diberi simbol Y.

4.2            Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres 3 Talise Jalan Dayodara, Kecamatan Talise, khususnya di kelas 1 pada tanggal 11 Januari 2010.

4.3            Data Penelitian
Data yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah wawancara peneliti dengan wali murid dan nilai rapot murid kelas 1 semester 1 SD Inpres 3 Talise, Kecamatan Palu Timur. Selanjutnya data tersebut akan diolah kembali untuk memperoleh hasil dari penelitian yang telah dilakukan.

4.4            Subjek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah murid kelas 1 SD Inpres 3 Talise yang berjumlah 40 murid  terdiri dari murid laki-laki sebanyak 25 orang dan perempuan  15 anak  yang  terdaftar pada tahun ajaran 2009/2010.
Mengingat populasi penelitian ini terbatas hanya kelas 1 saja, yaitu murid yang menempuh pendidikan TK sejumlah 26 murid dan yang tidak menempuh pendidikan TK sejumlah 14 murid, maka yang dijadikan sampel hanya murid yang berlatar belakang pendidikan TK sebanyak 14 anak dan yang tidak masuk TK sebanyak 14 anak pula.  Jadi sampelnya berjumlah 28 anak. Hal ini mengacu pada tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan TK dengan prestasi belajar, sehingga yang dijadikan sampel hanya anak yang berasal dari TK dan yang tidak dari TK.

4.5            Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan teknik yang mendukung tujuan penelitian dengan mempertimbangkan faktor tenaga, biaya dan waktu. Adapun teknik yang mendukung adalah sebagai berikut:
1)        Dokumentasi
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang nilai rapor murid kelas 1 SD Inpres 3 Talise yang dijadikan sampel pada penelitian ini dan data anak-anak yang berasal dari TK maupun anak yang tidak dari TK.
2)        Interview
Teknik yang digunakan untuk mengetahui prestasi belajar murid yang melalui jenjang pendidikan TK dengan yang tidak melalui jenjang pendidikan TK. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tanya jawab terhadap guru kelas 1. Di samping itu juga untuk mengetahui perbedaan prestasi serta kemampuan–kemampuan lain yang ditunjukkan oleh anak.
3)        Observasi
Peneliti menggunakan observasi untuk mengetahui secara langsung proses kegiatan belajar mengajar di kelas 1 dan juga untuk mengamati lingkungan sekolah. Selanjutnya pengamatan dilakukan untuk mengetahui hasil aktifitas belajar anak yang berlatar belakang TK dan yang bukan dari TK. Apakah ada perbedaan dalam aktifitas belajar mereka.

4.6            Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi dan catatan lapangan.

4.7            Prosedur Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Sesuai dengan sifat penelitian ini, maka ditetapkan teknik pengolahan data deskriptif dengan menggunakan perhitungan persentase (%). Adapun rumus analisa prosentase menurut Suharsismi Arikunto (1996; 42) adalah sebagai berikut:

                        P  =   f / N   x  100 %                  
Keterangan : 
P  =  Prosentase
f   =  Frekuensi
N =  Jumlah sampel
4.8            Keabsahan Data

Data yang peneliti peroleh benar-benar diperoleh langsung dari lapangan tempat penelitian, bukan data yang direkayasa oleh peneliti.



DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Bina Aksara.
Cronbach. 1960. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Depdiknas, 2004. Sosialisasi Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta.
_________, 2005. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi. Jakarta.
_________, 2006. Panduan Pengelolaan Taman Kanak-kanak. Jakarta.
Istijanto, 2006. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Jaeng, Maxinus. 2008. Pembelajaran Matematika di TK. Palu: Universitas Tadulako.
Kasam, Mas’ud. 1990. Cara Belajar yang Efektif. Jakarta: University Press.
Patmonodewo, Soemiarti. 2000. Pendidikan Anak Pra sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Poerwadarminta, 1990. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Suryabrata. 1989. Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Andi Offset.
Tim Pusat Bahasa. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Tim Pusat Bahasa.
Usman, Moh. Uzer dan Setiawati, Lilis. 2000. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

0 komentar:

Poskan Komentar